by

Heboh Mahasiswi KKN Disuruh Goyang dan ‘Hibur’ Aparat Desa

Wartaindonews, Bali – Kuliah Kerja Nyata merupakan bagian dari kegiatan mahasiswa untuk terjun ke lapangan. Biasanya kegiatan KKN diisi dengan kegiatan-kegiatan positif seperti relawan untuk mengajar di sebuah sekolah, membuat program-program yang bisa memajukan desa, hingga membuat kerajinan untuk meningkatkan ekonomi suatu daerah.

Namun apa jadinya jika mahasiswa KKN justru dipaksa untuk ‘menghibur’ warga? Seperti yang terjadi oleh 21 mahasiswa di Bali yang dievakuasi karena dipaksa untuk menghibur warga yang sedang berpesta miras.

1. Diminta bergoyang dan menghibur warga

Mahasiswi KKN di Bali melapor ke kampus setelah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari warga Banjar Jabon. Sebanyak 21 mahasiswi tersebut dipaksa untuk menyanyi dengan bergoyang dan ‘menghibur’ aparatur desa yang sedang berpesta miras.

Mahasiswi pun meminta pihak kampus untuk memindah lokasi KKN karena tidak nyaman. Pesta miras tersebut digelar di Banjar Jabon, Bali pada hari Jumat (28/6).

Dilansir dari Tribunnews.com, karena kasus tersebut Camat AA Putra Wedana harus turun tangan untuk memediasi antar mahasiswi KKN dan aparat desa di lokasi KKN. Mediasi yang dilakukan tidak hanya melibatkan mahasiswa dan aparat desa, namun juga anggota Polsek Dawan dan Polres Klungkung.

Atas perlakuan tidak menyenangkan tersebut, Universitas mengambil keputusan untuk menarik mahasiswanya dan mencari lokasi penempatan KKN yang baru.

2. Permasalahan diselesaikan secara kekeluargaan

Saat dikonfirmasi, camat AA Putra Wedana menyampaikan bahwa permasalahan sudah dimediasi dan sudah selesai.

“Sudah dimediasi, saya hanya ngecek saja kesana. Sudah selesai itu (permasalahan),” ujar Putra dengan singkat.

Pihak perbekel Desa Sampalan Tengah, I Wayan Mudiarta menyampaikan bahwa masalah sudah diselesaikan secara kekeluargaan dan hanya sebuah kesalahpahaman saja.

Pihak universitas menyampaikan sudah menarik seluruh mahasiswanya dari Banjar Jabon. Mahasiswa dievakuasi sembari menunggu penempatan di lokasi KKN baru.

3. Pelecehan seksual yang dilakukan mahasiswi KKN

KKN yang seharusnya diisi oleh berbagai kegiatan positif justru dinodai oleh pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang mahasiswa yang berani melecehkan teman KKN-nya sendiri. Peristiwa ini terjadi pulau Seram, Maluku, pada tahun 2017 lalu.

Dilansir dari Detik.com, sebenarnya kasus tersebut sempat redup. Namun kasus ini kembali menjadi polemik setelah Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung menerbitkan artikel berjudul “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan” tanggal 5 November tahun kemarin.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Korban pelecehan seksual justru mendapatkan nilai C dari dosen pembimbing lapangan terkait kasus ini.

Namun setelah kasus ini terungkap, pihak Universitas langsung mengambil tindakan dengan memperbaiki nilai korban menjadi A/B. Pihak UGM juga telah melakukan pendampingan psikologis kepada korban.

“Saya perlu memberikan penjelasan bahwa pelaku sampai saat ini kewajiban administrasi akademiknya sudah selesai, tetapi belum lulus. Karena masih harus menjalani tim pendampingan psikologis,” ujar Iva Ariani yang juga dosen Fakultas Filsafat UGM ini.

Kegiatan KKN diharapkan bisa memberi bekal kepada mahasiswa untuk terjun langsung ke lapangan. Namun dalam berbagai kasus yang ditemui, KKN justru malah berubah menjadi sebuah peristiwa yang menakutkan dan menimbulkan trauma bagi pihak terkait. Kita doakan semoga kasus-kasus serupa tidak pernah terulang lagi. (*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed