by

Getaran Kesadaran Kaweruh Putusnya Jembatan Gladak Perak Piket Nol Akibat Lahar Dingin G. Semeru

-Artikel-116 views

Getaran Kesadaran Kaweruh Sejarah Peristiwa Kisah dan Kejadian

Putusnya Jembatan Jaman Belanda tersebut juga sudah disaksikan oleh Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar. Jembatan yang menghubungkan Jalur Selatan dari Probolinggo, Lumajang Malang, ke arah Kepanjen dan Dampit Tumpang PP tersebut oleh erupsi luapan lahar dingin G Semeru sejak 04/12/2021 hingga putusnya di laporkan 05/12/2021, telah membuka catatan sejarah Jaman Agresi Militer Belanda Pertama 1947 di sana dalam wujud Jembatan Belanda Gladak Perak dan Jurang Piket Nol Sungai Besuk Sat tempat pembuangan korban pembunuhan Jaman PKI dahulu.

[ baca : butuh Kita doakan segenap kesempurnaan arwah yang tertimbun dan tertimpa bencana di massa lalu dan massa kini tersebut red.]

Sejarah letusan G. Semeru yang sangat besar pernah terjadi 200 tahun yang lalu, tepatnya 8 November 1818.

Letusan Erupsi Dari Puncak Kawah G. Semeru Jonggring Saloka hingga alirannya menuju Pantai Selatan, Pantai Jonggring Saloka, yang pernah tercatat punya 1001 pesona: membawa kesadaran kaweruh Kita ke pesan pesan Bathara Guru sebagai Pimpinan Para Dewa di Kahyangan Jonggring Saloka dalam Kisah Pewayangan serta bagaimana sesungguhnya Potensi Sinau Kaweruh di Pantai Jonggring Saloka adaNya.

Getaran Kesadaran Kaweruh Potensi Pantai Jonggring Salaka

Pantai Jonggring Salaka adalah pantai di pesisir selatan yang terletak di Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang Jawa Timur, berjarak 69 Km dari Kota Malang. Nama Jonggring Saloka diambil dari cerita pewayangan, sebagai nama Kahyangan tempat kediaman Bathara Guru. Untuk menuju ke pantai ini tidak mudah,, dari Kecamatan Sumberpucung menuju Donomulyo, dilanjutkan ke Desa Materaman, lalu harus melewati jalan malasan untuk mencapainya.

Fenomena Alam yang diklaim sebagai satu satunya di Indonesia, bahkan di dunia, berada di Watu Ngebros di Pantai Jonggring Saloka ini. Disebut Watu Ngebros karena dari BATU KARANG BESAR menjulang di bibir pantai tersebut, keluar muncratan air ke angkasa hasil pertemuan dua arus gelombang besar dari selatan dan utara. DUA gelombang itu bertabrakan di satu titik, di dalam rongga batu karang besar mirip gorong gorong raksasa tersebut. Dari rongga batu karang itulah muncul muntahan gelombang dan menimbulkan suara gemuruh yang cukup keras. Saat gelombang besar suara gemuruh itu terdengar hingga radius tujuh kilometer ke arah barat, tepatnya di sejumlah pantai di Kawasan Kalitekuk, Desa SUMBEROTO.

Bahkan pada saat terkena siraman sinar matahari, pecahan air di udara itu bisa memunculkan pelangi. Hanya munculnya PELANGI itu belum tentu sehari sekali. PELANGI muncul karena tergantung besarnya arus ombak yang bertabrakan dan tergantung arah sinar matahari yang tepat mengarah ke muncratan air itu. Watu Ngebros inilah daya tarik bagi para wisatawan pada massa kejayaan Pantai Jonggring Saloka tahun 1990-an silam. Karena fenomena alam ini nyaris tidak pernah ada di pantai manapun. Kondisi Watu Ngebros saat ini memang tidak sebagus dahulu. Setiap saat rongga dalam batu karang ini membesar akibat hantaman arus ombak, sehingga suara gemuruh yang keluar dari rongga batu karang itu sudah tak lagi melengking.

Pesan Getaran Murni Kesadaran Kaweruh Bathara Guru

Awighnamastu Namahsiddham.

Mangkana ta ling Bhaṭāra Guru. Yata Sang Kālānungkāla matunggu babahan Sanghyang Mahāmeru kulwan, ring Pangawan ngaraning babahan, (matangnyan nana desa ring Pangawan babahan Sanghyang Mahāmeru hika). Sang Kālanungkāla praśiṣṭa kinabhaktyan ing Pangawan, manganakên ta yuga Sang Kālānukāla, śabdanira mangdadi gêrêh, kḍapira mangdadi kilat, sihung huntunira mangdadi glap. Ikang naka matmahan pañcayaksa, aranya Sang Lumanglang, Sang Lumangling, Sang Lumangut, Sang Mangdulur, Sang Manginte. Ika mangingêtakên yan hana salah ulah salah śabda, mangkana kacaritanya.

Kunang Hyang Gaṇa kinon kumêmita lmah larangan matungguha babahan Sanghyang Mahāmeru marêp wetan, matangnyan hana deśa ring Pūrṇnajiwa ngaranya mangke, babahan Sanghyang Mahāmeru marep wetan. Sanghyang Gaṇa sira praśiṣṭa kinabhakten sira ring Purṇnajiwa.

Kunang Sang Sry-Anggasti kinon kumêmita lmah larangan, atungguha babahan Sanghyang Mahāmeru marêp kidul, matangnyan hana deśa ring Paḍang aranya mangke, babahan Sanghyang Mahāmeru hika. Sang Ṛṣy-Anggaṣṭi kinabakten ing Paḍang.

Kunang Bhaṭāri Ghorī kinon kumêmita lmah larangan, matungguha babahan Sanghyang Mahāmeru marêp lwar. Matangnyan hana deśa ring Gantên ngaranya mangke, babahan Sanghyang Mahāmeru marêp lwar, Bhaṭāri Ghorī praśiṣṭa kinabhakten ing Gantên.

Papat babahan Sanghyang Mahāmeru, yata sinangguh Pañātūr Mukā ngaranya.

Terjemahan :

“Semoga tiada halangan.
Demikianlah sabda Bhaṭāra Guru. Bahwasanya Sang Kālānungkāla menjaga celah Sanghyang Mahāmeru sebelah barat, di Pangawan nama celahnya. Oleh sebab daerah Pangawan menjadi celah Sanghyang Mahāmeru bagian barat. Sang Kālānungkāla dipuja di Pangawan. Melakukan yoga Sang Kālānungkāla. Suaranya menjadi guruh, kedipnya menjadi kilat, taring dan gigi menjadi petir. Kukunya menjadi lima raksasa bernama Sang Lumanglang, Sang Lumangling, Sang Lumangut, Sang Mandulur, Sang Manginte. Tugas mereka mengingatkan bila ada yang salah perilaku dan salah ucap. Begitulah ceritanya.

Adapun Hyang Gaṇa diperintahkan menjaga tanah larangan, menjaga celah Sanghyang Mahāmeru yang menghadap ke timur. Oleh sebab itu sekarang ada daerah yang bernama Purnajiwa, yaitu celah Sanghyang Mahāmeru yang menghadap ke timur. Sanghyang Gaṇa dipuja di Purnajiwa.

Adapun Sang Ṛṣi Anggasṭi diperintahkan menjaga tanah larangan, menjaga celah Sanghyang ·Mahāmeru yang menghadap ke selatan. Oleh sebab itu sekarang ada daerah bernama Paḍang, yaitu celah Sanghyang Mahāmeru sebelah selatan. Sang Ṛṣi Anggasṭi dipuja di Paḍang.

Adapun Bhaṭari Ghori diperintahkan menjaga tanah larangan, menunggui celah Sanghyang Mahāmeru yang menghadap ke utara. Oleh sebab itu, sekarang ada daerah bernama Gantên, yaitu celah Sanghyang Mahāmeru yang menghadap ke utara. Bhaṭari Ghori dipuja di Gantên.

Empat celah Sanghyang Mahāmeru , disebut dengan Pañatur Muka (Keempat Gerbang) namanya.” (Sanghyang Tantu Panggêlaran)

Semoga keempat penjaga Sanghyang Mahameru mampun menekan banyaknya korban jiwa pada erupsi Gunung Mahameru (Sêmeru),

Sabtu Wage, 04 Desember 2021.
Kasembadan.

Penulis : Guntur Bisowarno

Kontributor