by

Gereja Katolik Melawan Pandemi Covid-19

-Artikel-324 views

Gereja-gereja Katolik di seluruh dunia ditutup, dengan misa dan layanan paroki lainnya dibatalkan oleh banyak Uskup. Ini adalah langkah bijaksana dan perlu yang dirancang untuk menjaga orang tetap sehat. Pandemi viruscorona membingungkan dan menakutkan bagi ratusan juta orang. Krisis ini menimbulkan pertanyaan medis, etika, dan logis yang serius. Itu menimbulkan pertanyaan tambahan bagi orang beriman.

Menurut Paus Fransiskus, pandemi tersebut adalah respons alami terhadap sikap manusia yang tidak mempedulikan krisis ekologi saat ini. Kita tidak merespon sebagaimana mestinya bencana yang terjadi. Hal itu disampaikan Paus pada sebuah wawancara surel yang diterbitkan Rabu (8/4/2020) oleh majalah The Tablet and Commonwealth. Pandemi ini memberi kesempatan kepada manusia untuk belajar memahami dan merenungkan alam.

“Saya tidak tahu apakah ini pembalasan alam, tetapi ini tentu saja merupakan respons alam,” katanya. Manusia perlu melakukan pertobatan ekologis.

Paus Fransiskus juga meminta pemerintah untuk melakukan karantina terhadap para tuna wisma di hotel dan bukannya tempat parkir. “Ada foto muncul kemarin mengenai orang tuna wisma menjalani karantina di tempat parkir di Las Vegas. Dan hotel-hotel terlihat kosong. Tapi para tuna wisma tidak bisa pergi ke hotel,” kata Paus. ”Ini adalah saatnya untuk mengurus kaum miskin.” Ada kecenderungan, kata dia, masyarakat melihat orang miskin sebagai ‘hewan yang diselamatkan’. Teologi praktis yang menegaskan aspek kepedulian, pengorbanan, dan komunitas kini berperan sangat penting di tengah pandemi Covid-19. Sepanjang sejarah wabah, umat Kristiani menunjukkan pengorbanan dan pengabdian kepada sesama, di luar komunitas Kristen sekalipun. Dengan adanya wabah corona, Gereja kini dituntut untuk kembali menginspirasi dan meredakan kekalutan jemaat.

Kita bisa mempelajari kembali bagaimana orang-orang Kristiani dari tradisi Gereja di masa lalu yang telah menangani wabah semacam ini. Respons umat Kristen terhadap wabah dan malapetaka dimulai dengan beberapa ajaran Yesus yang paling terkenal: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka” (Lukas 6:31); “Kasihilah sesamamu manusia seperti mengasihi dirimu sendiri. ” (Markus 12:31), atau “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13). Sederhananya, etika Kristen di masa wabah menganggap hidup kita sendiri harus selalu dianggap kurang penting daripada kehidupan sesama manusia.

Para sejarawan mencatat, Wabah Antonine mengerikan dari abad ke-2 yang mungkin telah membunuh seperempat Kekaisaran Romawi. Umat Kristiani saat itu konon merawat orang sakit dan menawarkan model spiritual ketika wabah bukanlah pekerjaan dewa-dewa yang marah dan berubah-ubah, tetapi hasil dari Penciptaan yang rusak dalam pemberontakan melawan Kasih Allah. Epidemi yang lebih terkenal adalah Wabah Siprianus. Diduga sebagai  penyakit yang berhubungan dengan Ebola, Wabah Siprianus membantu memicu Krisis Abad Ketiga di peradaban Romawi. Orang-orang Kristen, tanpa peduli bahaya mengambil alih perawatan orang sakit dan memenuhi setiap kebutuhan mereka. Khotbah Siprianus memberi tahu orang-orang Kristen untuk tidak berduka bagi para korban wabah (yang telah tinggal di surga), tetapi untuk melipatgandakan upaya dalam merawat yang masih hidup.

Kebiasaan perawatan yang penuh pengorbanan ini telah muncul sepanjang sejarah. Pada 1527, ketika wabah pes melanda Wittenberg, Jerman, profesor teologi dan pendiri gerakan Protestan Martin Luther menolak panggilan untuk melarikan diri dari kota dan melindungi dirinya sendiri. Sebaliknya, ia tetap tinggal dan melayani orang sakit. Wabah tidak akan membatalkan tugas kita, menurutnya Martin Luther, melainkan mengubah tugas kita
menjadi jalan salib, yang dengannya kita harus siap untuk mati. Tubuh adalah anugerah dari Tuhan dan harus dilindungi. Motif Kristen untuk kebersihan dan sanitasi tidak muncul dalam pemeliharaan diri, tetapi dalam etika pelayanan kepada tetangga. Kita ingin merawat orang yang menderita, yang pertama dan terpenting berarti
dengan tidak menginfeksi yang sehat. Orang-orang Kristen menciptakan berbagai rumah sakit pertama di Eropa sebagai tempat yang higienis untuk menyediakan perawatan selama masa wabah, dengan memahami kelalaian dapat menyebarkan penyakit lebih lanjut, yang pada kenyataannya tergolong pembunuhan. Kehadiran Gereja berfungsi sebagai panggilan sosial, komunitas yang saling peduli dan mendukung, terutama ketika kehidupan manusia tak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Pengorbanan pertama yang harus dilakukan orang Kristen untuk memelihara sesama adalah kenyamanan diri sendiri, ketika kita dengan antusias berpartisipasi dalam langkah-langkah sanitasi yang agresif dan menjaga jarak (social distancing).

Hampir tak pernah dipikirkan, ada pandemi yang membuat manusia harus menghentikan aktivitasnya secara massal, mengurung dan mengisolasi diri, memutus relasi yang langsung, menutup dan membuat sepi pusat-pusat keramaian, bahkan mengunci rumah-rumah ibadah. Di tengah wabah Corona, masjid, gereja, sinagoga, pura, kuil dan wihara harus beradaptasi dan mengubah tradisi.

Kita pun menyadari kemunculan wabah lain, yakni ragam teori konspirasi seputar virus Corona, yang menyebut bencana kesehatan itu sebagai ganjaran Ilahi. Fenomena tersebut adalah penyalahgunaan otoritas seorang pemuka agama. Pengaruh lembaga keagamaan memang sedemikian kuat, keterlibatan pemuka agama pada diskursus nasional seputar wabah Corona juga perlu mewanti-wanti terhadap pandangan apokaliptif yang memberikan legitimasi terhadap klaim akhir zaman. Eskalasi wabah yang dramatis ikut memicu Paus Fransiskus untuk berkomentar, bahwa ada tendensi untuk membumbui isu Corona dengan skenario akhir zaman, bukan oleh komunitas agama sendiri, melainkan oleh penganut teori konspirasi.

Dalam masyarakat yang semakin individualis, pandemi Covid-19 dapat dengan cepat bermutasi menjadi epidemi keputusasaan. Pastor James Martin, SJ. di America Magazine, menawarkan beberapa saran mengacu pada tradisi Kristen (spiritualitas Ignasian) dan pengalamannya sendiri.

Jangan Panik Ini bukan untuk mengatakan tidak ada alasan untuk khawatir, atau bahwa kita harus mengabaikan nasihat yang baik dari para profesional medis dan ahli kesehatan masyarakat. Namun, kepanikan dan ketakutan bukan dari Tuhan. Tenang dan berharap. Adalah mungkin untuk menanggapi krisis dengan serius, sambil mempertahankan rasa tenang dan harapan.

Yang menjauhkan kita dari Allah, St. Ignatius Loyola menamainya roh jahat, ”menyebabkan kegelisahan yang menggerogoti, menyedihkan dan membuat rintangan. Dengan cara ini hal itu meresahkan orang dengan alasan palsu”. Oleh karena itu, jangan memercayai kebohongan atau desas-desus, atau menyerah pada kepanikan. Percayai apa yang dikatakan para ahli medis. Roh Allah “membangkitkan keberanian dan kekuatan, penghiburan, inspirasi dan ketenangan.”. “Jangan takut !,” seperti yang Yesus katakan berkali-kali. Pesan Paskah 2020 Paus Fransiskus: Jangan Menyerah kepada Covid-19. Jangan MengkambinghitamkanTahan godaan untuk menjelekkan atau mengkambinghitamkan, yang membuat kita stres.

Covid-19 bukan penyakit Cina; itu bukan penyakit “asing”. Itu bukan salah siapa-siapa. Demikian juga, orang yang terinfeksi tidak bisa disalahkan. Ingatlah bahwa Yesus ditanya tentang orang buta: “Siapa yang berdosa, bahwa orang ini dilahirkan buta?” Tanggapan Yesus: “Tidak seorang pun” (Yoh 9: 2). Penyakit bukanlah hukuman. Jadi, jangan menjelekkan dan jangan membenci. Merawat yang Sakit Pandemi ini mungkin membutuhkan waktu yang lama; beberapa teman dan keluarga kita mungkin sakit dan mungkin meninggal dunia. Lakukan apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu orang lain, terutama orang lanjut usia, orang cacat, orang miskin dan terisolasi.

Ambil tindakan pencegahan yang diperlukan; jangan sembrono dan jangan berisiko menyebarkan penyakit. Perintah Kelima “Jangan Membunuh”, dengan mengatakan hal ini sebenarnya berarti kita tidak boleh membahayakan orang lain melalui kelalaian atau kecerobohan kita, mendorong orang percaya untuk mematuhi perintah karantina, mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari penyebaran penyakit. Tetapi juga jangan lupa tugas dasar Kristen untuk membantu orang lain. “Aku sakit, dan kamu datang mengunjungi aku,” kata Yesus (Mat 25). Dan ingatlah bahwa Yesus hidup pada masa ketika orang tidak memiliki akses ke perawatan medis yang paling mendasar sekalipun, dan mengunjungi orang sakit sama berbahayanya, tidak lebih daripada hari ini. Bagian dari tradisi Kristen adalah merawat yang sakit, bahkan dengan biaya pribadi.

Jangan tutup hati kita untuk orang miskin dan mereka yang tidak memiliki atau terbatas perawatan kesehatan. Pengungsi, para tunawisma dan migran, misalnya, akan lebih menderita daripada masyarakat umumnya. Biarkan hatimu terbuka untuk semua yang membutuhkan. Jangan biarkan hati nurani kita terinfeksi juga.

Percayalah bahwa Tuhan Menyertai Anda Banyak orang, terutama mereka yang sakit, mungkin merasakan perasaan terisolasi yang menambah ketakutan mereka. Dan banyak dari kita mengenal orang yang sakit dan bahkan
mati. Jadi kebanyakan orang akan bertanya: Mengapa ini terjadi?

Tidak ada jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan itu, yang pada intinya adalah pertanyaan mengapa penderitaan itu ada Sesuatu yang telah dipikirkan para santo dan teolog selama berabad-abad. Pada akhirnya, ini adalah misteri terbesar. Dan pertanyaannya adalah: Bisakah kita percaya pada Tuhan yang tidak kita mengerti?

Pada saat yang sama, kita tahu bahwa Yesus memahami penderitaan kita dan menemani kita dengan cara yang paling intim. Ingatlah bahwa selama pelayanan publiknya Yesus menghabiskan banyak waktu dengan mereka yang sakit. Dengan kata lain, Yesus tahu dunia penyakit. Yesus memahami semua ketakutan dan kekhawatiran yang kita miliki. Yesus memahami Anda, bukan hanya karena Ia ilahi dan memahami segala sesuatu, tetapi karena
Ia adalah manusia dan mengalami semua hal. Pergi kepada-Nya dalam doa. Dan percayalah bahwa Dia mendengar Anda dan bersama Anda.

Di Indonesia, umat katolik baik dari tingkat lingkungan, paroki maupun Keuskupan-keuskupan, bahu membahu dan bekerjasama dengan Pemerintah dan semua pihak membantu masyarakat yang terdampak Covid-19. Ormas-ormas katolik seperti Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), elemen Katolik
lain, serta kesiapsediaan para cendikiawan dan ilmuwan Katolik untuk ikut memberikan sumbang-saran dan menyediakan diri untuk menjadi relawan mendukung pemerintah bersama-sama menghadapi wabah Covid-19. Dibentuklah Jaringan Katolik Melawan Covid-19 (JKMC) yang antara lain memobilisasi dukungan dokter yang merupakan bagian dari tim sukarelawan dan sejumlah rumah sakit Katolik.

Dalam semangat Paskah Kristiani, kita berjuang melawan derita dan salib akibat Covid-19 dengan doa dan aksi-aksi kemanusiaan yang konkret, dengan kerelaan saling membantu dan mengingatkan, dan dengan kemauan membawa sesama yang rentan dan berduka kepada penghiburan dan suka cita. Salam damai.

 

 

(Ruddy Nararyo Saroyo, anggota Komisi Hubungan Antar Agama & Kemasyarakatan Keuskupan Agung Jakarta)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed