by

ESENSI PANCA SILA dalam SINERGITAS ANTARA DEMOKRASI dan TANTULARISME Abad 21

-Artikel-44 views

HARI LAHIRNYA PANCASILA menurut Catatan Negara 77 Tahun yang lalu, 1 Juni 1945 ~ 1 Juni 2022. Di Hari Weton RABU PON. berangka bilangan 7 dan 7, Hari RABU berangka bilangan 7 dan Pasaran PON berangka bilangan 7, menuju 77 Tahun Negara RI merdeka 17/08/1945 ~ 17/08/2022.

Kita sekarang seyogyanya saat tepat momentumnya untuk MEREINKARNASI tulisan I WAYAN WESTA 1 JUNI 2020. yang bertepatan dengan TAHUN AKHIR PROGRAM GARBA DATU MAHA BAJRA SANDHI tahun 2000 ~ 2020 dalam BUKU REINKARNASI BUDAYA nya, perihal BUDAYA PERADABAN NUSANTARA BARU berbasis Api Spirit Jaman AKSARA MAHKOTA “BHINNEKA TUNGGAL IKA”

Kita sungguh diberkahi Tuhan Yang Maha Esa, bisa berkenalan langsung dan dikehendakiNya untuk mampu bercakap cakap berjam jam dengan I Wayan Westa di BALAI BENGONG, yaitu Tempat Ngobrol Serius Santai berupa semacam Gasebo yang terbuat dari Kayu di Tradisi Adat Bali, di rumah Beliau di Kawasan Denpasar Bali, Kita juga dihadiahi dan diberi buku terbarunya saat itu, yang berjudul BALI SPIRIT, Penerbit PUSTAKA LARASAN bekerja sama dengan Wiswakarma Museum di Tahun 2014 dan Kita bisa berjumpa lagi di Tahun 2016 di Pertemuan Maha Agung Parum Param Maha Bajra Sandhi di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar, yaitu Prarai Parum Param Mimbar Dialog Epistemik Kebudayaan bertema ” Menggugat Masa Depan Sempurna Surat Untuk Presiden” Program Mahkota AKSARA 7 Abad Bhinneka Tunggal Ika Sutasoma Mpu Tantular XIV ~ XXI MAHA BAJRA SANDHI.

Judul Tulisan Asli dalam keseluruhan paragraf demi praragaf dan Penulis yaitu I Wayan Westa yang Kita Reinkarnasikan kali ini ada di bawah ini :

*Panca sila ya gégén den teki hawya lupa, Antara Demokrasi dan Tantularisme*

Suatu hari, di sebuah jejaring sosial saya menemukan sebuah pamflet “nirmaya”, ajakan untuk satu perjuangan yang monolitik, yang amat keras untuk menyatakan perang pada pluralisme.

Saya tidak terkejut di sebuah negara yang menganut paham demokrasi, ini pastilah suara yang syah-syah saja.

Namun bukankah senyatanya asas dasar persatuan Nusantara ini dibangun semangat pluralisme. Dan peradaban kita juga dirajut dari geo-kultur yang begitu beragam.

Nusantara dibangun dari ratusan suku, ratusan bahasa daerah, puluhan keyakinan “animisme Nusantara’, yang sampai kini tetap hidup, dengan kekhasan adat yang unik.

Masih terang kita ingat, kejadian di Balinuraga, Lampung , perusakan rumah ibadah di Jogjakarta, perusakan pura di kaki Gunung Rinjani di tahun silam, hingga rasisme tak pernah lenyap hingga kini. Korban berjatuhan, negara kerap terlambat hadir. Rasa takut entah dilindungi siapa? Rasa aman entah didapat dari mana?

Ini pertanyaan besar yang mesti segera dicarikan solusi. Karena di situ, rasa “kekitaan” telah apus, tanpa sadar kita menyandarkan diri pada doktrin-doktrin yang kaku, yang tidak lentur menghadapi perubahan zaman. Kita tidak sadar bahwa akar dari peradaban yang terus betumbuh adalah pluralisme yang hidup. Di situ, dalam keanekaragaman kultur lahir semangat untuk merawat, merangkul semua, sebagai bagian semangat bersama.

Semangat untuk menegakkan sendi-sendi kemanusian. Dan jadilah Nusantara sebagai langit bersama di mana semua keyakinan, seluruh identitas kultural dan agama sebagai mosaik daya budi kebangsaan megah, memuliakan semua.

Apa yang kita perlu pelajari kemudian dari Bali? Bali adalah ladang pluralisme yang mesti kita rawat terus-menerus, karena denyut sejatinya Nusantara kecil itu cuma bisa dirasakan di pulau mungil. Di sini segala ras, suku, agama bisa hidup berdampingan.

Kelenturan serta sifat adaptif kebudayaannya memungkinkan Bali melakukan semua itu.

Kendati setelah dua kali dentuman bom, orang Bali terpakasa “diajari” curiga pada pendatang. Slogan perlawanan dengan motto “ajeg Bali” pun muncul, bak lagu “hit” melambung popular, di mana akhirnya redup dalam hiruk-pikuk pesta, upacara, lingkungan yang rusak, deraan korban HIV AIDS, korupsi, kemiskinan, serta kian langkanya lapangan kerja di Bali.

Tentang toleransi, kerukunan, penghormatan pada mereka yang berbeda bukanlah sesuatu yang dilakoni setengah hati orang Bali. Ungkapan “manusa pada”, yang dimaknai sebagai manusia sebumi memberi rujukan penting tentang arus utama cita-cita orang Bali.

Cakrawala ini melampaui pandangan sempit tentang “penjara-penjara” ras, agama, dan suku dan ego kultural lainnya. Simak jua madah-madah pujian yang dilantunkan para pendeta saat memuja surya saban pagi, bukankah mereka mendoa untuk kerahayuan tiga dunia, bumi-langit-akasa.

Melihat Bali lebih intim, segara tergambar di benak, bahwa dalam spirit itu orang Bali memandang yang bebeda itu sebagai “nyama” bertemali doa-doa yang dilantunkan saban hari itu. Kata “nyama” bukanlah ungkapan bersayap, sekadar tata krama, alih-alih basa-basi semata. Kendati belakangan diakui, kosa kata ini dinodai pikiran teramat dangkal, anti kerukunan, anti kebhinekaan. Dan jujur Bali juga tak kurang gelap dihias tragedi kemanusian yang kadang amat akut — mulai dari konflik raja-raja hingga tragedi tahun 1965.

Namun ada yang tak pernah padam di Bali, ia tak membiarkan dirinya menjadi paria dengan cara menolak perbedaan, tentu. Pulau ini sudah sejak zaman silam menjadi rumah para penjunjung nilai kemanusiaan. Di sebuah dusun kecil, Budakeling, desa yang terletak di ujung timur Kabupaten Karangasem, orang bisa mencatat banyak hal tentang semangat ke-Nusantara-an. Di situ terperlihara semangat yang tidak dibalut kepentingan suku, ras, dan agama.

Dalam perjalanan sejarah, monoteisme bolehlah dituduh sebagai pandangan yang telah banyak merengut banyak korban. Bagaimana tidak, agama formal misalnya; turut menscrening agama-agama asli Nusantara untuk “dimodernkan” dengan agama yang lebih realistik, monoteistik, di mana negara berperan besar meregulasi jadi serba seragam.

Meski diingat bahwa spirit Nusantara yang dibangun raja-raja Majapahit, yang menghasilkan sinkritisme Siwa-Buddha (sekarang ada term sinergi sinergitas, ya seyogyanya SINERGITAS SIWA BUDDHA, yang sekarang jauh lebih memadai ketimbang terminologi sinkritisme, karena bisa dan biasa diartikan mempersekutukan yang bukan Tuhan atawa menduakan Tuhan, untuk itu selanjutnya Kita lebih memilih Sinergi Sinergitas SIWA BUDDHA red.) begitu juga Nusantara yang dibangun raja-raja Islam Mataram tidaklah atas dasar agama.

Sebagaimana Nusantara kecil yang masih hidup kini di Bali, ia tidak dibangun atas landasan agama. Nusantara itu sebagaimana disaksikan kini di Bali dibangun dari spirit geo-historis, geo-kultural dengan pengutamaan menghormati manusia sebumi, “manusa pada.” Ini adalah ajaran yang dialirkan para leluhur.

Inilah demokrasi ala Bali, demokrasi yang tak cuma menuntut hak, demokrasi di mana semua orang merasa dihargai sekaligus dimuliakan. Demokrasi di mana setiap person dihargai sama rata. Demokrasi ala Bali sesungguhnya demokrasi yang bertujuan menemukan kebenaran tertinggi, kebenaran yang bisa memayungi kepentingan sumua orang, karena di situ tidak ada kepentingan pribadi yang dipolitisi, lalu memaksakan kebenaran pribadi untuk orang banyak. Lalu muncul demokrasi kepentingan, yang pada akhirnya melahirkan dehumanisasi, penghilangan harkat manusia.

Karena inti dari demokrasi sesungguhnya tidak di situ. Demokrasi, bila boleh saya pinjam kata-kata Nehru, mantan Perdana Mentri India, dalam buku bertajuk, The Legacy Of Nehru (1984); “Demokrasi menyangkut kesamaan kesempatan bagi semua orang, seluas-luasnya, dalam hal penguasaan politik dan ekonomi. Ini juga menyangkut kebebasan perorangan untuk tumbuh dan menjadi yang terbaik menurut kecakapan dan kemampuannya. Demokrasi melibatkan suatu toleransi terhadap orang lain, dan bahkan terhadap pendapat orang lain apabila mereka berbeda dengan Anda. Demokrasi mencakup suatu pencarian intensif untuk kebenaran tertinggi.”

Kembali pada pluralisme Nusantara yang sudah dijarit sedemikan indah menjadi mosaik dan pandangan hidup bangsa, kita kemudian teringat Mpu Tantular, dialah sesungguhnya Bapak Pluralisme dari jaman lampau, dari zaman Majapahit yang melahirkan kata tua Nusantara.

Tantularisme menjadi penting kita gemakan kini. Darinyalah pendiri republik menggamit ungkapan untuk keragaman bangsa ini: bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Tapi perlu disadari, lebih dari sepuluh tahun Mpu Tantular memikirkan aphorisme ajaib ini. Dari karya pertamanya yang sempat kita baca, Kakawin Arjuna Wijaya, ia baru menemukan formulasi; kalih sameka [ dua itu sama]. Kutipan lengkapnya tertulis begini:
Ndan kantênanya haji tan hana bheda sang hyang/ hyang Buddha rakwa kalawan Śiwarājadewa/ kālih samêka sira sang pinakeșți dharma/ ring dharma sīma tuwi yan lêpas adwitiya/ [27.2]
Intinya tidak ada perbedaan di antara beliau/ Sang Hyang Buddha dengan Sang Hyang Siwarajadewa/ keduanya sama, itu yang menjadi tujuan dharma/ baik dalam dharma sima maupun dharma lepas, tidak ada bedanya.//

Tapi sepuluh tahun kemudian, saat pujangga ini menulis Kakawin Sutasoma, Mpu Tantular menyempurnakan kembali hakikat yang berbeda itu, karena pada intinya yang tunggal itu berasal dari yang banyak, dan yang banyak berasal dari yang tunggal, maka tunggallah itu semua.

Begini Mpu Tantular menuliskan:
hyang Buddha tan pahi lawan Śiwarājadewa// rwâneka dhatu winuwus wara Buddhawiśwa/ bhinêka rakwa ring apan kêna parwanôsen/ mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal/ bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa//
Hyang Buddha itu tak berbeda dengan Śiwarājadewa// Sejatinya dua perwujudan beliau Buddha dan Siwa/ berbeda konon, tapi kapan dapat dibagi dua/ demikianlah hakikat Buddha dan Siwa, tunggal adanya/ berbeda itu tunggal, tidak ada kebenaran mendua//

Demokrasi Pancasila, demokrasi yang berdasarkan sila-sila Pancasila yang dilihat sebagai suatu keseluruhan yang utuh, memang telahir dari semangat pluralisme dan sinkritisme Mpu Tantular, dari satu zaman gemilang bernama : Majapahit, hingga di satu titik sang pujangga mengingatkan dengan amat sangat; panca sila ya gégén den teki hawya lupa. Pancasila itu patut dipegang teguh, jangan sampai dilupakan.

I WAYAN WESTA

Catatan Kita :

Catatan Pertama:

I Wayan Westa, Lahir di Klungkung, 27 Januari 1965. Ia menyelesaikan pendidikan di IKIP Universitas Dwijendra Denpasar, Jurusan Pendidikan Sastra dan Bahasa Bali. Tahun 1989
– 1993 mengajar SLUA saraswati Klungkung, Dosen di sejumlah Perguruan Tinggi Swasta. Menekuni Dunia Jurnalistik, tulisannya tersebar di sejumlah media : Mingguan Karya Bhakti, Harian Nusa, Bali Post, Kompas, dan Radar Bali tahun 2000 – 2009, bekerja sebagai REDAKTUR MAJALAH GUMI BALI SARAD. Tahun 2010-2012 dipercaya sebagai Pimpinan Redaksi MAJALAH SABDA. Sebelumnya, dalam rangka Program Pemetaan BAHASA NUSANTARA. Tahun 1999 Ia bekerja di The Ford Foundation. Menyuntling sejumlah buku diterbitkan Yayasan Obor Indonesia. Wulan Sadhuwuring Geni (Ontologi Cerpen dan Puisi Daerah). Seribu Kunang Kunang di Manhatan ( Terjemahan dalam 13 Bahasa Daerah), dan SUNARI (Novel Basa Bali Karya Ketut Rida), Rabindranath Tagore. Puisi Sepanjang Tahun, Penerbit Yayasan Dharma Sastra 2002. Menulis buku TUTUR BALI, diterbitkan Yayasan Deva Charity, Utrecht, The Netherlands.

Catatan Kedua :

REINKARNASI BUDAYA. Buku ini berisi program mahkota yang disebutnya GARBA DATU Menuju Puncak Kemegahan 2000 -2020. Buku ini berisi seperangkat konsepsi mahkota budaya yang mengejawantahkan kemurnian kehidupan, karya budaya supraideal dan nyata untuk kejayaan Persada Nusantara, dalam bingkai kesadaran multikultural, yaitu BHINNEKA TUNGGAL IKA. (Bukit Jimbaran, 3 Mei 2007, Rektor Universitas Udayana Prof. Dr.dr. I Made Bakta).

Catatan Ketiga :

Mengapa Sutasoma? Mengapa Tantularisme?

Tanpa mengabaikan keluhuran karya sastra lainnya, seperti Ramayana, Arjunawiwaha, Bharatayuddha, Bhomakawya, dan jenis sastra lainnya yang tinggi kedudukannya. Ya, pastilah Kita telah mengenal bahwa, pustaka sastra kakawin berbahasa JAWA KUNO yang satu ini memiliki NILAI STRATEGIS bagi sejarah eksistensi bangsa Indonesia dan rahasia kebesaran bangsa bangsa (global). Indonesia, sejak zaman kemerdekaan 1945. adalah negara demokratis yang berdiri di atas landasan filosofi Panca Sila dan mahawakya (slogan pemersatu bangsa) “Bhinneka Tunggal Ika”, yang dipetik (terinspirasikan) dari Kakawin Sutasoma Gubahan MPU TANTULAR itu tergolong jenis sastra yang MERDEKA dan MAHARDIKA yang dilandasi TOLERANSI KEAGAMAAN yang sangat besar (Buku REINKARNASI BUDAYA, halaman 17 red.)

Editor dan Aplikator : Guntur Bisowarno