by

ENTHIK

-Budaya, OPINI-563 views

Wartaindo.news – Semarang, 5 Januari 2019.
Ingatkah dengan Tembang Bocah berikut :

Panuding : enthik, enthik, penunggul patenana;
Jenthik Manis: aja dhi, aja dhi, dulur tuwa kuwi malati;
Jempol: iya bener, iya bener

Disadari atau pun tidak, ada “situasi psikologis” yang mirip “tergambarkan” pada Tembang Bocah tersebut. Sering kali, kita “sulit menerima” seseorang yang punjul ing sapadha (yang utama dari yang sama, primus inter pares).

Di dalam kisah Mahabarata, dengan segala daya upaya Bratasena ingin dilenyapkan, karena memiliki keunggulan – kesaktian, kejujuran, kesatriaan dan tangguh – bukan kematian yang didapat tetapi diujungnya, ia justru bisa bertemu dengan Dewa Ruci, yang mengubah Bratasena karena telah menemukan jati diri dan menjadi lebih bijak.

Hari-hari ini, kita pun menghadapi hiruk pikuk kegaduhan – dari hoax, fitnah, pemutarbalikan fakta, maupun semburan kebohongan (firehose of falsehood). Dan, menjelang perhelatan besar pesta demokrasi di bulan April, sangat dirasakan eskalasinya.

Diperlukan kesadaran – seperti Jenthik Manis – yang tampil mengingatkan. Dan, dibutuhkan kematangan – seperti Jempol – yang mempersatukan.

Dalam Ilmu Budaya Dasar, justru ketika manusia menyadari bahwa kelima jarinya itu bisa dikatupkan – dan saling bekerja sama – menjadi awal dari manusia berbudaya. Analog dengan itu, ketika kita menyadari sebagai bangsa yang satu – dan kemudian diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 1928 – di situlah tonggak pertama jalan menuju kemerdekaan kita tapaki.

Apa jadinya, jika Enthik benar-benar (jadi) membunuh Panunggul, hanya karena ia punjul ing sapadha? Jari-jari kita menjadi tidak lengkap lagi. Kemungkinan besar, menjadi sulit dikatupkan. Dan, perjalanan menuju manusia berbudaya tak pernah kita alami.

Hal yang sama, ketika kita – sebagai bangsa – tidak cukup memiliki kerendahan hati. Kita hanya disibukkan pada penolakan yang kurang cukup berdasar, tanpa gagasan alternatif di dalam penolakan yang dilontarkan secara agak “membabi buta”.

Demokrasi membutuhkan kerelaan untuk memberikan kesempatan kepada yang memiliki gagasan yang (lebih) baik. Terlebih, jika sebagian dari gagasan itu telah diwujudkan praksis dan empiris – dan berjalan on the track.

Bratasena ataupun si penunggul dibidik agar mati, namun bukan kematian yang didapat, karena semua itu memang belum titi wanci sebab Allah sang pencipta belum menghendaki, malah mukti dan bertambah sakti.

 

Kontributor – Edi Cahyono

Editor – Dannyts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed