by

DERING TELEPON DINI HARI

-Artikel-159 views

Pernah suatu kali saya menerima telepon di luar waktu yang wajar. Telepon itu saya terima tepat jam 02.00 (dua) dini hari, saat itu saya sedang tidur nyenyak. Saya bangun dengan terkejut (bahasa Jawa: geragapan). Pelan-pelan saya berjalan ke pesawat telepon dan mengangkatnya. Terdengar suara seorang wanita (ibu). Belum sampai menyebut nama, saya sudah mengenalnya karena ibu ini sudah beberapa kali datang menemui saya. Ibu ini adalah seorang ibu yang menjalani hidup sebagai ‘single mom’ karena ditinggal suami yang mempunyai WIL (Wanita Idaman Lain). Suaminya selingkuh dengan seorang wanita dari kota lain. Ibu ini tinggal bersama kedua anaknya. Yang besar seorang cewek, siswi SMP. Adiknya seorang cowok, belajar di SD. Lewat telepon, ibu ini bercerita panjang lebar mengenai masalah yang dihadapinya. Salah satu masalah yang paling sering terjadi adalah masalah dengan anak ceweknya. Jadi ini masalah orangtua dan anak. Masalah seperti ini banyak terjadi dalam keluaga. Namun dalam kasus keluarga ini masalahnya menjadi meruncing karena sikap ibu yang terlalu khawatir akan anak ceweknya, sehingga selalu membatasi gerak anaknya. Ibu ini melarang anak ceweknya untuk main ke rumah teman atau mall. Ibu ini begitu menekan anak ceweknya untuk belajar lebih serius. Ibu ini melakukan pengekangan, pelarangan. Hal ini masuk akal (bisa dipahami) karena ibu ini punya kekhawatiran yang besar, jangan-jangan anak ceweknya mengalami kegagalan dalam studinya. Dan andaikata itu terjadi, ibu ini bisa kena marah dan disalahkan oleh mantan suaminya (suami sudah menikah dengan WILnya dan mempunyai anak satu). Sebaliknya saya juga memahami perasaan anak ceweknya. Dia tidak boleh main, entah ke rumah teman atau ke mall. Rekreasi atau bermain merupakan kebutuhan jiwa. Maka wajarlah kalau anak cewek ini protes, sehingga terjadi konflik. Selain masalah dengan anak ceweknya, ibu ini kerap jengkel atau marah pada mantan suaminya yang sering suka berulah dengan sengaja, agar ibu ini terganggu ketenangan hidupnya. Rupanya mantan suaminya meskipun sudah menikah dengan wanita lain, masih memiliki dendam kepada mantan isterinya, sehingga merasa puas dengan membuat bermacam-macam ulah. Contoh satu ulah yang dibuatnya adalah menjelang Natal dan Tahun Baru, mantan suami ibu ini akan merayakan Natal dan Tahun Baru di Bali. Dia ingin mengajak kedua anaknya bersama isteri barunya. Lalu mantan isteri dibiarkan sendirian di rumah. Coba bayangkan bagaimana perasaannya? Apakah tidak sepi dan sakit hati, sementara mereka berempat bergembira ria, berhura-hura. Beberapa waktu sebelum rencana itu terjadi, ibu ini sudah gelisah, membayangkan kesendiriannya selama ditinggal oleh kedua anaknya. Rencana mereka akan berlibur di Bali selama seminggu. Karena ibu ini tidak bisa mengendalikan kegelisahannya, ibu ini minta tolong saya untuk bisa menasehati anak-anaknya agar tidak jadi berangkat ke Bali. Ibu ini meminta tolong agar saya datang ke rumahnya pada saat dia belum pulang kerja, sehingga saya dan anak-anaknya bisa bicara dengan leluasa. Intinya ibu ini meminta tolong kepada saya untuk mendampingi anak ceweknya dengan segala masalahnya yang kompleks. Saya diberi waktu tiap hari Kamis, jam 14.00-16.00. Saya mendampingi anak cewek ini selama empat kali. Ternyata pada saat sesi tatap muka, anak cewek ini bercerita masalah yang diluar dugaan ibunya. Anak cewek ini juga bermasalah dengan sekolah, mengenai pacarannya. Cara mereka berpacaran sudah dianggap kelewatan. Ibu anak cewek ini sudah sering diundang oleh pihak sekolah sehubungan kasus pacarannya. Akhirnya, ibu ini memutuskan untuk memindahkan anak ceweknya ke sekolah lain dengan tujuan agar pacarannya bubar atau putus, karena sebenarnya ibu ini tidak menghendaki anak ceweknya berpacaran dengan cowok ini. Ibu ini tidak senang kepribadian cowok ini, yang dianggap tidak baik. Akhirnya anak cewek ini pindah sekolah. Ibu ini merasa lebih tenang. Tetapi apa yang terjadi? Ternyata anak cewek ini tetap berpacaran dengan cowoknya. Bahkan pacarannya sudah kebablasan. Anak cewek ini hamil. Akhirnya mereka dinikahkan. Setahun kemudian lahirlah anak pertamanya. Berita menyedihkan yang saya terima dari ibu ini setelah agak lama tidak berkomunikasi, ternyata pernikahan anaknya ambyar. Mereka bercerai. Perkembangan selanjutnya, anak cewek ibu ini dengan satu anak dan seorang babysitter pindah ke kota ‘J’ untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi ternama di kota itu. Sampai sekarang saya masih sering dihubungi oleh ibu ini lewat WA.

Selain menerima telepon dini hari dari ibu yang baru saja saya ceritakan, saya juga pernah menerima telepon dini hari yang lain. Kali ini, telepon datang dari jauh. Telepon ini datang dari mantan siswa saya, sebut saja namanya ‘Koko’ (bukan nama sebenarnya). Koko pada waktu itu sedang kuliah di Wellington, New Zealand. Ceritanya adalah sebagai berikut: pada waktu duduk di bangku SMA, Koko berpacaran dengan teman sekelasnya, sebut saja namanya ‘Yuke’ (bukan nama sebenarnya). Mereka selalu runtang-runtung alias bersama-sama. Di kelas pun, duduknya hanya depan-belakang. Yuke duduk di depan Koko. Waktu itu, saya berpikir pacarannya akan awet. Ternyata, pacaran mereka putus. Ini terjadi setelah Koko kuliah di Wellington. Tentu Koko sangat kecewa karena Yuke pernah di ajak liburan ke Australia segala. Koko memang anak seorang pengusaha yang kaya. Nah, pada saat stressnya memuncak dan Koko sudah ‘sumpek’ alias penuh perasaan campur aduk: sedih, kecewa, marah dan tak tertahan lagi, Koko menelepon saya. Pada saat menelepon itu, Koko betul-betul marah. Nada suaranya meninggi, beberapa kali mendesah dan nafasnya pendek. Bahkan di tengah-tengah telepon itu, Koko lepas kendali dan memukul meja. Saya kaget juga. Saya bertanya: ‘Koko, ada apa ini kok ada suara ‘braaak’?’ Untuk beberapa saat tidak ada jawaban dari Koko. Baru setelah beberapa saat, Koko menjawab dengan seringai kesakitan: ‘Saya memukul meja, Pak. Ini tangan saya berdarah kena pecahan kaca’. Setelah cukup lama menelepon saya dan merasa lega dengan segala uneg-unegnya yang sudah disalurkan termasuh lewat pemukulan meja, Koko pun mengakhiri teleponnya.

Cerita lanjut tentang Koko. Koko ada libur dan pulang ke Indonesia. Dalam rentang waktu libur yang panjang, Koko bermain ke rumah saya dengan mengajak teman akrabnya waktu di SMA, sebut saja nama temannya itu ‘Didu’ (bukan nama sebenarnya). Begitu mereka berdua duduk, Koko pun mulai bercerita panjang lebar. Sepanjang bercerita Koko tak berhenti merokok. Yah maklumlah Koko masih stress. Bahkan setelah cerita panjang lebar itu, Koko meminta Didu untuk memukul lengannya guna mengalihkan rasa sakit hatinya. Koko menyuruh Didu sambil berkata: ‘Didu, tolong pukul lengan saya yang keras, biar saya bisa mengalihkan rasa sakit hati saya ke lengan saya. Saya tidak tahan!’. Didu pun menjawab: ‘Nggak mau, mosok aku memukul kamu’. Kata Koko: ‘Kalau kamu nggak mau pukul saya, kamu yang saya pukul’. Mendengar kata Koko, Didu pun memukul Koko beberapa kali. Setelah dipukuli Didu, tiba-tiba Koko keluar dan berjalan ke samping kiri rumah saya. Di situ ada lahan yang ditanami pohon pisang oleh tetangga saya. Rupanya Koko masih belum lega dengan pukulan Didu. Melihat banyak pohon pisang di situ, Koko memukuli pohon pisang. Untung baru dua pohon yang roboh, saya keluar dan melihat kejadian itu. Saya berteriak-teriak: ‘Koko, stop!. Itu pohon pisang tetangga, nanti yang punya marah’. Mendengar teriakan saya, Koko pun berhenti memukuli pohon pisang tetangga saya. Koko pun meminta maaf pada saya. Setelah cukup lama di rumah saya, Koko dan Didu akhirnya pulang.

Begitulah dua cerita tentang ‘Dering Telepon Dini Hari’. Cerita-cerita tersebut mau menunjukkan kepada kita semua bahwa perasaan itu harus diungkapkan, lebih-lebih perasaan negatif. Memendam perasaan negatif dalam kurun waktu yang lama bisa menyebabkan penyakit, baik fisik maupun psikis. Aswar Saputra dalam bukunya ‘Healing Code’, menulis ada 82 penyakit yang dilandasi oleh perasaan negatif. Sekali lagi, perasaan negatif berupa ketegangan-ketegangan harus dicarikan ventilasi melalui ‘Katarsis’ (pelepasan ketegangan). Seorang bijak berkata: ‘Ceritakanlah kesedihanmu, maka kesedihanmu akan berkurang separo. Ceritakanlah kegembiraanmu, maka kegembiraanmu akan menjadi dua kali lipat’.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed