by

DEMI KELUARGA UTUH YANG TERPAHIT PUN DITEMPUH

-Artikel-270 views

Pernah suatu petang ketika saya sedang santai-santai menikmati waktu luang, tiba-tiba HP saya berdering. Setelah saya angkat dan buka, terdengar suara seorang lelaki. Karena kami tidak tidak saling mengenal, lelaki itu pertama-tama langsung memperkenalkan diri dengan menyebut namanya. Dalam kisah ini, sebut saja namanya Boni (bukan nama sebenarnya). Setelah memperkenalkan diri, bapak Boni bercerita bagaimana dia memperoleh no HP saya. Bapak Boni memperoleh no HP saya dari seorang pastor yang mengenal baik saya. Pastor itu memberikan no HP saya kepada bapak Boni karena bapak Boni sedang menghadapi masalah, yaitu ‘Perselingkuhan’. Isteri bapak Boni sedang terlibat perselingkuhan dengan lelaki lain. Pastor itu merekomendasikan agar bapak dan ibu Boni menemui saya. Maka bapak Boni ingin mendapatkan kepastian waktu pertemuan dengan saya. Saya cukup heran bapak Boni mau datang ke kota saya, karena pada waktu menelpon saya, saya tanya tempat tinggal bapak Boni. Bapak Boni menyebut sebuah nama kota yang terletak di daerah penghujung Jawa Timur. Setelah waktu dan tempat disepakati, akhirnya bapak dan ibu Boni pun datang.

Setelah tiba dan sejenak istirahat dan berkenalan secara tatap muka, sesi curhat pun di mulai. Sesi pertama adalah sesi perorangan. Pertama yang bertemu saya adalah ibu Boni. Ibu Boni bercerita banyak tentang bapak Boni. Ibu Boni bercerita bahwa bapak Boni adalah orang yang baik, bahkan sangat baik. Bapak Boni adalah seorang kepala keluarga yang baik, sangat peduli terhadap isteri dan kedua anak cowoknya. Segala kebutuhan keluarga dicukupi. Keluarga tidak kekurangan secara ekonomi bahkan berlebih karena suami isteri bekerja. Mereka mempunyai jabatan atau kedudukan tinggi di tempat kerja masing-masing. Bapak Boni adalah orang kedua di kantornya, yang berhubungan dengan kehutanan. Ibu Boni adalah seorang kepala sekolah terkenal di kotanya. Hidup bapak Boni secara rohani dan jasmani baik. Bapak Boni terlibat baik dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat. Sampai disini, saya tidak mendengar satu pun hal yang negatif. Saya mencoba menyela dengan pertanyaan: ‘Lha, suami ibu Boni itu orang baik, saya tidak melihat sesuatu yang buruk pada bapak Boni. Masalah ibu dan bapak Boni itu sebenarnya apa?’. Ibu Boni berkata: ‘Begini pak Is, kalau kami sedang ada masalah dan kami berembug, kami tidak pernah tuntas. Kami pasti berhenti, mogol jadinya’. Saya mencoba memancing: ‘Lha kok mogol itu kenapa?’. ‘Tidak tahu, pokoknya tiap kali kami berbincang tentang suatu permasalahan, suami saya tiba-tiba pergi begitu saja’, jawab ibu Boni. Saya ganti bertanya: ‘Ibu Boni sama sekali tidak tahu sebabnya? Tidak menduga-duga kira-kira apa?’. ‘Tidak’, jawab ibu Boni. Sampai di sini, saya belum mempunyai gambaran yang jelas mengenai persoalan pasutri Boni, karena saya baru mendengar masukan dari satu pihak.

Sekarang tiba waktunya bapak Boni berbincang-bincang dengan saya. Bapak Boni bercerita secara panjang lebar tentang ibu Boni. Bapak Boni juga menceritakan banyak hal positif tentang ibu Boni. Ibu Boni adalah ibu rumah tangga yang baik, sangat peduli terhadap suami dan anak-anaknya. Ibu Boni juga aktif menggereja dan bermasyarakat. Ibu Boni juga seorang wanita karir. Ibu Boni adalah kepala sekolah yang terkenal di kotanya. Sampai di sini, saya mau menggali persoalan yang sebenarnya. Saya berkata: ‘Bapak Boni, tadi ibu Boni bercerita tentang bapak. Semua yang diceritakan baik. Saya tidak mendengar satu pernyataan pun yang negatif tentang bapak Boni. Sekarang bapak menceritakan tentang ibu Boni. Semua yang bapak ceritakan semua baik. Tidak ada satu pernyataan pun yang negatif. Lalu persoalan bapak dan ibu Boni itu sebenarnya apa? Apa masalahnya?’. ‘Begini, pak Is’. Bapak Boni mulai membuka masalahnya. ‘Setiap kali kami berembug tentang suatu masalah, isteri saya kalau sudah omong tidak bisa dihentikan. Terus omong saja, tidak mau ganti mendengarkan. Mestinya kan gantian. Itu tidak. Isteri saya kalau sudah berembug seperti ini, betul-betul ‘Gas Pol Rem Blong’. Saya tidak tahan, pak Is. Daripada begitu dan untuk mengendalikan emosi, saya lebih baik pergi meninggalkan dia.

Setelah sesi perorangan, kini dilanjutkan dengan sesi bersama. Inilah sesi yang menentukan, karena dalam sesi ini kita bisa saling cross check. Ibu Boni mengakui memang kalau sedang berbicara atau berembug suatu masalah susah untuk di stop dan bicara bergantian. Hal ini membuat bapak Boni tidak tahan dan meninggalkan ibu Boni. Dengan kepergian bapak Boni, masalah menjadi menggantung, tidak ada solusi atau jalan keluar. Karena tidak ada jalan keluar, ibu Boni mencari jalan keluar di luar rumah. Kebetulan ibu Boni mempunyai seorang teman, seorang bapak, yang bisa diajak omong-omong menjadi teman curhat. Ibu Boni merasa nyaman bersama bapak ini. Dan kenyamanan ini terus berlanjut. Meski tidak ada persoalan yang perlu dibicarakan, keinginan atau dorongan untuk berada bersama bapak ini tidak bisa dihentikan. Nah, akhirnya relasi mereka berdua semakin akrab. Dan terjadilah perselingkuhan. Momen-momen mereka mengadakan pertemuan adalah pada saat bapak Boni tugas luar kota untuk supervisi ke daerah-daerah. Kalau sedang supervisi bapak Boni bisa meninggalkan rumah berhari-hari dan berminggu-minggu. Ada peribahasa yang bunyinya ‘Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga’. Hal yang sama dialami oleh ibu Boni. Serapat-rapatnya ibu Boni menyembunyikan perselingkuhannya, terendus juga juga oleh bapak Boni. Dampaknya, bapak Boni marah besar. Bapak Boni mengultimatum ibu Boni. Bapak Boni merencanakan pindah ke kota lain bersama kedua anaknya. Ibu Boni diberi kebebasan: mau ikut pindah boleh, tidak ikut juga tidak apa-apa. Inilah konsekuensi yang harus dihadapi sebagai akibat perselingkuhannya. Keputusan bapak Boni adalah harga mati, tidak bisa ditawar-tawar. Mendengar rencana bapak Boni seperti itu, ibu Boni bagaikan di sambar petir. Di depan saya dengan berurai air mata, ibu Boni berkata: ‘Pak Is, saya harus memilih satu keputusan yang tidak mudah’. Saya berkata: ‘Iya, ibu. Memang berat. Saya bisa memahami perasaan ibu. Ibu yang seorang kepala sekolah ternama di kota ibu, harus lepas jabatan andaikata ibu ikut suami dan anak-anak. Ibu yang kemarin sangat sibuk, tiba-tiba harus berhenti. Di kota yang baru, ibu entah berapa lama harus menjadi ibu rumah tangga murni. Pada jam sibuk kerja atau sekolah, ibu sendirian di rumah. Ibu dulu punya uang sendiri, sekarang harus menggantungkan diri pada suami. Ibu banyak relasi atau teman, untuk sementara waktu tidak banyak teman. Tetapi saya punya dugaan, ibu tidak akan berlama-lama terkungkung dalam kesendirian di rumah. Ibu bisa menceburkan diri ke dalam kegiatan gereja dan kemasyarakatan. Saya yakin lewat perjumpaan, orang lama-lama akan mengetahui bahwa ibu orang yang punyai potensi untuk bekerja. Ibu bisa mendapat pekerjaan lagi. Tetapi kalau ibu tidak ikut suami dan anak-anak, ibu memang tidak akan kehilangan pekerjaan dan jabatan, tetapi ibu akan kehilangan keluarga. Menurut saya, untuk saat ini ibu perlu menenangkan diri. Dalam keheningan, ibu mohon petunjuk Tuhan pilihan yang benar. Pasti akan ada petunjuk.

Adapun keputusan bapak Boni untuk pindah kota, didasarkan pada pertimbangan: bapak Boni malu karena banyak orang mengetahui kasus perselingkuhan ibu Boni. Bapak Boni juga berasumsi kalau tidak pindah ke kota lain, ibu Boni tetap bisa berselingkuh karena tinggal di kota yang sama. Seminggu setelah pertemuan ini, bapak dan ibu Boni datang untuk yang kedua kali. Rupanya bapak dan ibu Boni sudah mengkomunikasikan hasil percakapan di pertemuan yang pertama. Ternyata ibu Boni sudah punya keputusan bulat untuk ikut bapak Boni dan anak-anak. Mereka merencanakan pindah ke sebuah kota yang masih termasuk provinsi Jawa Timur tetapi dekat dengan provinsi Jawa Tengah. Inilah keputusan ibu Boni yang luar biasa. Ibu Boni mau atau bersedia menebus kesalahannya demi keutuhan keluarga. ‘Demi keluarga utuh, yang terpahit pun di tempuh’.

Setelah tinggal beberapa bulan di kota yang baru, bapak Boni mendapat promosi jabatan dan harus pindah ke luar pulau. Ibu Boni ikut mendampingi bapak Boni. Sementara kedua anaknya dititipkan kakek dan nenek di sebuah kota di Jawa Tengah.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed