by

BIJAK BERGAWAI

-Artikel-135 views

Diantara alat atau sarana komunikasi hasil kemajuan teknologi khususnya teknologi komunikasi atau informasi yang praktis dan canggih tak pelak lagi adalah Hand Phone alias HP. Kalau kita runut fungsi utama dari HP adalah sebagai alat komunikasi melalui suara dan pesan singkat atau SMS. Namun HP juga bisa berfungsi untuk menangkap siaran radio, televisi, juga dilengkapi dengan fungsi audio, kamera, game serta layanan internet. Dengan kata lain dapat dikatakan HP adalah alat komunikasi yang multiguna. Atas dasar kepraktisannya dan kecanggihannya itulah maka banyak orang menggunakan HP. HP adalah sarana komunikasi yang sudah mendunia. Dari kota besar sampai ke pelosok desa. HP digunakan mulai dari orang gede: pebisnis, politikus sampai orang kecil: penjual sayur keliling, penarik becak, tukang pijat. Semua menggunakan HP untuk urusan pekerjaannya. Inilah salah satu tujuan HP diciptakan untuk membantu mempermudah komunikasi yang bisa digunakan dalam berbagai macam urusan. Jadi HP bisa digunakan secara positif. Dengan HP orang bisa mempermudah komunikasi, media hiburan, meningkatkan pengetahuan, meningkatkan kenyamanan dalam belajar, tersedianya teknologi yang lebih canggih, mempertajam kemampuan mengingat murid, meningkatkan kemampuan dalam mengatur waktu.

Banyak sisi positif HP yang bisa membantu manusia. Namun tidak bisa dipungkiri HP memiliki sisi negatif yang tidak sedikit juga. Penggunaan HP yang berlebihan bisa merusak kesehatan misal: mata, kepala pusing, gangguan otak, kanker otak, kelumpuhan tangan, dll. Itu baru dampak negatif yang berhubungan dengan kesehatan. Ada dampak yang berhubungan dengan keselamatan nyawa. Banyak sekali contohnya. Menyetir sambil ber-HP ria bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas, bertabrakan dengan kendaraan lain, masuk jurang, menabrak pohon, dll. Jalan kaki sambil SMS orang bisa ketabrak mobil, masuk selokan, dll. Ada juga dampak negatif HP yang ada kaitannya dengan masalah sosial, relasi komunikasi. Saya menceritakan kisah-kisah nyata yang sungguh-sungguh terjadi.

Kisah I.

Pada suatu hari ada seorang ibu datang kepada saya, sebut saja namanya ‘Lira’ (bukan nama sebenarnya). Ibu Lira ini seorang wanita karir yang sukses. Dia menjadi orang penting di instansinya di tingkat provinsi. Dia super sibuk. Ibu Lira ini hidup sebagai ‘single mom’ dengan satu anak. Suaminya meninggalkan ibu Lira dan anaknya sudah cukup lama. Anak ibu Lira sebut saja namanya ‘Dodo’ (bukan nama sebenarnya). Dodo kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Jawa Tengah. Kedatangan ibu Lira ini dalam rangka minta bantuan sehubungan dengan masalah keluarga yaitu persoalan dengan Dodo. Sudah selama seminggu Dodo meninggalkan rumah dan tidak tahu sebabnya. Ibu Lira tidak merasa ada persoalan dengan Dodo. Ibu Lira bercerita sambil berurai air mata. Setelah mendengarkan cerita ibu Lira sampai tuntas, saya mengajak ibu Lira untuk mencari akar masalahnya dimana. Saya mengajak ibu Lira untuk refleksi kira-kira masalah apa dengan menyodorkan sebuah lembaran berisi bidang-bidang yang bisa menimbulkan masalah seperti: uang, pendidikan, relasi, komunikasi, dll. Akhirnya dengan cara ini ibu Lira menemukan akar masalahnya yaitu: relasi komunikasi. Ceritanya Dodo itu kan kuliah di luar kota. Jadi tidak tinggal serumah dengan ibu Lira. Dodo pulang seminggu sekali pada waktu weekend. Tentu di rumah ya hanya berdua dengan ibu Lira. Nah, teman ngobrol satu-satunya ya ibu Lira. Tetapi ibu Lira meskipun ada Dodo tetap sibuk dengan urusan pekerjaan. Ibu Lira sibuk SMS, telepon, dll sehingga tidak ada kesempatan bagi Dodo untuk bercerita kepada ibu Lira. Karena kebutuhan jiwa Dodo tidak bisa diperoleh dari ibu Lira, Dodo mencari di luar rumah. Apa yang Dodo lakukan? Pergi dari rumah selama satu minggu. Untung kegiatan di luar rumah kegiatan positif. Dodo sehari-hari kumpul dengan teman-temannya di gereja. Kalau malam, tidur di rumah salah satu teman. Seminggu setelah kedatangan ibu Lira, ganti Dodo yang datang kepada saya. Dodo memang saya undang agar saya bisa mengetahui perkembangan apa yang terjadi di rumah. Ternyata ibu Lira kalau Dodo pulang meletakkan HP dan lebih senang menemani Dodo.

Kisah II.

Ada seorang bapak-ibu (pasutri) yang sekarang perjalanan hidupnya berada pada tahap ‘EMPTY NEST’ alias ‘sarang kosong’, artinya anak-anaknya sudah meninggalkan mereka karena sudah mencari hidup sendiri-sendiri di kota lain. Bahkan ada yang sudah berkeluarga. Jadi bapak-ibu, hanya berdua saja. Maka kalau mau ngobrol ya hanya dengan pasangannya saja, tidak ada orang lain. Nah, suatu hari ibu datang kepada saya menceritakan segala uneg-uneg dan kejengkelannya terhadap bapak. Ibu bercerita bahwa bapak kecanduan HP. Mulai bangun pagi sampai sebelum tidur malam, pegangannya HP. Yang membuat ibu ini jengkel adalah kalau diajak bicara bapak ini tidak menanggapi alias tetap pegang HP. Sekali dua kali, ibu masih sabar. Tetapi lama-lama jengkel dan menjadi marah. Ibu ini datang kepada saya sampai empat kali. Sudah saya nasihati apa yang mesti ibu lakukan, dikomunikasikan, rupanya bapak ini tetap cuek. Akhirnya kemarahan ibu pun tidak tertahankan. Ibu pergi dari rumah ke rumah anaknya yang sudah berkeluarga di kota lain. Ibu meninggalkan bapak selama delapan belas hari. Nah apa yang terjadi selama di tinggal itu? Bapak harus masak atau mencari makan sendiri, cuci pakaian sendiri, bersih-bersih rumah sendiri. Bapak ini jatuh sakit dan sempat opname selama lima hari. Pada saat ibu pulang, ibu ini terkejut melihat bapak menjadi kurus.

Kisah III.

Ada suami isteri yang relatif masih muda, baik usia biologisnya maupun usia pernikahannya. Menurut isteri, suaminya sulit diajak berkomunikasi. Suami dimata isteri itu kasar. Kalau isteri curhat atau membicarakan suatu masalah, suami cuek atau tidak mendengarkan. Lama-lama isteri tidak mau curhat lagi pada suami. Maka isteri kalau curhat kepada orang lain, biasanya lewat WA. Pada suatu hari, isteri curhat kepada seorang teman laki-laki. Di akhir WA dari temannya ini, si teman menulis, ‘Wah kowe ayu banget’ alias ‘Wah kamu cantik sekali’. Sore hari ibu muda ini men‘charge’ HP nya. Saat itu, suami pulang kerja. Suami lewat tempat HP di ‘charge’ dan iseng buka WA dan menemukan kalimat yang intinya mengagumi ibu muda ini. Suami yang memang mempunyai pembawaan emosional dan pencemburu langsung marah, tanpa membicarakan atau klarifikasi tentang tulisan itu dengan isterinya. Malam itu mereka langsung terlibat pertengkaran. Esok hari, ibu muda ini datang kepada saya membawa koper dan tas. Sambil berurai air mata, ibu muda ini bercerita tentang peristiwa itu, saya heran kok ibu muda ini membawa koper dan tas, ternyata dia diusir oleh suaminya.

HP bisa mendekatkan yang jauh tetapi harus dicatat jangan sampai menjauhkan yang dekat. Kisah-kisah tersebut adalah kisah-kisah menjauhkan yang dekat. Inilah dampak negatif HP pada tataran sosial, relasi dan komunikasi. Apa yang terjadi pada kisah I dan II, ibu yang cuek dan bapak yang cuek dalam dunia per’gawai’an disebut ‘PHUBBING’. ‘PHUBBING’ adalah istilah untuk menjelaskan tindakan cuek seseorang di dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gadget daripada membangun sebuah percakapan. ‘PHUBBING’ bisa terjadi dimana-mana: keluarga, komunitas, persahabatan, dll. Orang yang hanya fokus ke HP dan mengabaikan orang disekitarnya, lama-lama bisa menjadi ‘A-SOSIAL’. Tentu tidak dilarang menggunakan gawai, karena gawai sudah menjadi bagian hidup kita di jaman now. Tetapi yang perlu selalu disadari ‘BIJAK BERGAWAI’.

 

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed