by

BERJALAN DALAM LEMBAH KEKELAMAN (SENI MENGHADAPI DAN MELEWATI DUKA CITA)

-Artikel-171 views

Hidup manusia itu bisa diibaratkan sebagai sekeping uang logam atau koin. Koin terdiri dari dua sisi atau wajah. Karena hidup manusia itu ibarat koin, maka hidup manusia pasti akan silih berganti. Suatu saat akan mengalami hidup yang penuh suka cita, pada kesempatan lain akan mengalami duka cita. Rasanya tak mungkin hidup hanya diwarnai dengan suka cita terus menerus atau duka cita terus menerus, selalu akan terjadi perputaran bagaikan roda. Suatu saat di atas, pada kesempatan lain di bawah. Menyadari kenyataan dinamika hidup seperti itu, kita harus bersiap untuk bisa menerima baik suka cita maupun duka cita. Tentu lebih-lebih dalam menghadapi duka cita.

Duka cita pada umumnya berupa kehilangan. Kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup seseorang. Bisa sesuatu barang yang berharga seperti emas, berlian. Bisa juga berupa sesuatu kenangan atau pemberian dari seorang sahabat, tinggalan dari orang tua. Bisa juga kehilangan dalam bentuk lain seperti kehilangan kesehatan atau sakit, kehilangan anggota badan seperti kehilangan kaki karena diamputasi. Dan kehilangan yang biasanya menyebabkan duka cita yang mendalam adalah duka cita karena kehilangan orang yang dikasihi. Kehilangan pasangan hidup alias suami atau isteri, kehilangan orang tua, anak, saudara kandung. Pada saat ini dimana dunia dilanda pandemi covid 19, banyak orang mengalami duka cita. Ada yang kehilangan mata pencaharian karena di PHK. Kehilangan anggota keluarga karena terpapar covid 19 dan tidak tertolong, akhirnya meninggal.

Bagaimana sikap kita menghadapi duka cita? Apa yang mesti kita lakukan menghadapi duka cita? Pertama-tama, yang perlu kita lakukan dalam menghadapi duka cita adalah kita sadari. Kita sadari bahwa kita sedang mengalami duka cita karena sedang kehilangan. Misalnya kita kena PHK. Pasti kita sedih, tidak punya pekerjaan. Kedua, kenyataan ini kita terima, tidak kita ingkari atau hindari, juga tidak kita sembunyikan. Ketiga, duka cita kita ungkapkan. Bisa jadi kita akan menangis. Menangislah, jangan di tahan. Semua orang boleh menangis, termasuk laki-laki. Menangis bukan monopoli perempuan. Menangis bukan berarti cengeng atau kurang iman. Air mata akan membersihkan hati. Dalam hidup ini, segala sesuatu ada waktunya. ‘Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa’ (Pengkothbah 3 : 4).

Cara lain menghadapi duka cita adalah menceritakan atau berbagi pengalaman duka kepada sahabat atau seseorang yang bisa kita curhati dan bisa membantu meringankan perasaan duka kita. Perasaan itu perlu diungkapkan baik pada saat kita gembira maupun sedih. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan: ‘Ceritakanlah kegembiraanmu, maka kegembiraanmu akan menjadi dua kali lipat. Ceritakanlah kesedihanmu, maka kesedihanmu akan berkurang separuh’. Apabila duka cita sungguh di rasa berat dan sudah menjadi beban psikologis yang bisa menganggu ritme hidup harian dan rasanya dibutuhkan bantuan konselor, maka cari konselor untuk konsultasi. Gangguan ritme hidup harian itu bisa berupa gangguan tidur. Biasanya tidur pulas menjadi tidak bisa tidur atau sebaliknya maunya tidur terus, malas apa-apa. Gangguan makan. Tidak ada selera makan sama sekali, atau justru sebaliknya, mau makan terus. Nah ini saatnya datang kepada konselor.

Dalam menjalani dan menghadapi duka cita, seseorang biasanya akan melewati tahap-tahap. Ada lima tahap yang akan dilewati oleh seseorang yang sedang menghadapi duka cita. Tahapan-tahapan ini merupakan dinamika, yang dikemukakan oleh Elizabeth Kübber Ross. Tahapan-tahap itu adalah:

  1. DENIAL

Pada tahapan ini, orang akan mengalami shock, kacau, merasa tidak memerlukan orang lain, tidak bisa konsentrasi, ingin teriak, menangis. Banyak ungkapan yang diekspresikan. Seperti pada tragedi kapal selam 402 Nanggala yang memakan lima puluh tiga putera putera terbaik, keluarga yang kehilangan bisa berguman ini tidak mungkin. Pada saat seseorang mengalami kegagalan, misalnya dalam ujian sekolah, yang bersangkutan bisa mengatakan ini tidak mungkin, saya kemarin mengerjakannya dengan sangat baik.

  1. ANGER

Duka cita bisa disembunyikan. Bisa orang ini mencari-cari yang hilang. Misalnya pada kasus kehilangan pasangan hidup. Orang bisa menunjukkan kemarahannya kepada dokter, perawat, rumah sakit. Bahkan dia bisa menyalahkan Tuhan. Kok bukan pasangan orang lain.

  1. BARGAINING

Pada tahapan ini, orang yang sedang menghadapi duka cita menurunkan tingkat kedukaan. Dia bisa berjanji untuk berbuat baik. Misalnya orang yang sakit mengatakan andai kata saya sembuh, saya akan aktif mengikuti kegiatan Gereja. Saya besok mau menjadi organis Gereja, saya mau menjadi prodiakon.

  1. DEPRESSION

Dia memahami apa yang hilang. Entah itu orang, kesehatan atau harta. Kadang-kadang pada puncak penderitaannya, dia muncul niat untuk mengakhiri hidupnya alias bunuh diri.

  1. ACCEPTANCE

Inilah tahapan terakhir. Akhirnya orang bisa menerima kehilangannya. Dia akan merasa lebih tenang, mulai bisa tersenyum dan bisa berdoa. Bisa pasrah atau berserah.

Itulah tahapan-tahapan dinamika menghadapi duka cita menurut Elisabeth Kübber Ross. Menurut para ahli, proses berlangsungnya kedukaan akan berlangsung sekitar tiga bulan. Yang dibutuhkan dalam menghadapi kedukaan adalah keseimbangan. Dan itu adalah suatu proses. Dari hasil refleksi ada makna dibalik kehilangan. Kehilangan merupakan jalan masuk untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Contoh, ada orang yang di PHK dari pekerjaannya. Dia bekerja pada seseorang atau ikut boss. Karena di PHK, dia muncul ide untuk bekerja mandiri. Ternyata dengan bekerja mandiri, dia punya penghasilan yang lebih baik. Nah, ini makna. Juga ada orang yang kehilangan kesehatan. Dia tidak bisa bekerja atau beraktivitas. Dia punya banyak waktu. Apa yang dia kerjakan? Dia lebih banyak mengolah hidup rohaninya, banyak berdoa, meditasi, membaca Kitab Suci. Dan orang ini meski secara fisik tidak nyaman tetapi hidup batinnya damai, tenang, dekat dengan Tuhan. Semoga kita diberi kemampuan untuk menghadapi duka cita dan menemukan makna dibalik duka cita. Kita sanggup ‘Berjalan dalam lembah kekelaman’. Semoga.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed