by

BELAJAR MENCUKUPKAN DIRI

-Artikel-71 views

Kata cukup itu tidak ada standardnya. Kata cukup itu relatif. Yang dianggap cukup oleh seseorang, bisa jadi dianggap (masih) kurang bagi orang lain. Contoh sederhana: sepiring nasi bagi seorang lansia sudah cukup, sudah membuat perut kenyang, bahkan bisa jadi sangat kenyang. Tetapi bagi seorang remaja yang sedang tumbuh dianggap kurang, belum membuat remaja itu kenyang. Orang tua sudah tidak butuh banyak makan, sedangkan remaja masih butuh banyak makan. Ini bisa dikarenakan orang tua sudah tidak begitu aktif bekerja secara fisik, sehingga tidak butuh banyak energi. Sedangkan remaja masih dalam fase pertumbuhan dan banyak gerak fisik yang dilakukan, sehingga butuh banyak energi.

Contoh lain lagi mengenai cukup. Pada waktu mahasiswa, banyak mahasiswa yang makan ala kadarnya. Mungkin cukup nasi sepiring, sayur dan satu macam lauk saja, cukup. Mereka makan seperti itu karena belum bekerja, belum ada penghasilan, masih tergantung pada orang tua. Tetapi begitu mereka lulus, bekerja dan punya penghasilan sendiri, makan seperti pada waktu mahasiswa atau kuliah dianggap tidak cukup. Sekarang makannya selain nasi, sayur pun bisa lebih dari satu macam, juga lauk pauknya. Tentu hal ini boleh-boleh saja, namanya perbaikan gizi alias peningkatan. Mencukupkan diri itu mencakup banyak hal. Tidak hanya masalah makan, tetapi juga masalah pakaian, rumah, dll. Waktu masih kuliah, pakaian sederhana. Pokoknya pantas pakai, cukup. Tetapi begitu punya penghasilan, pakaian waktu kuliah dianggap tidak cukup, tidak keren. Sekarang pakaian cari yang mahal sedikit tidak apa-apa, tetapi nyaman di badan.

Mencukupkan diri adalah kata kerja, artinya harus dilakukan, adalah sikap merasa cukup dengan apa yang ada atau dimilikinya, sehingga bisa bersyukur atau berterima kasih kepada Tuhan. Contoh tentang UMR. Orang harus bisa mencukupkan diri dengan pendapatannya. Ini bukan berarti berpuas diri, dimana tidak ada usaha untuk memperbaiki diri. Kalau memang ada peluang yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga, ya manfaatkanlah.

Mengapa kita perlu belajar mencukupkan diri? Pada kebanyakan orang, kita telah memiliki cara hidup yang salah, sehingga ketidakpuasan terus menerus kita rasakan. Dulu motor asal bisa jalan, cukup. Sekarang harus yang ngetrend. Juga mobil. Dulu asal bisa untuk mengangkut keluarga, cukup. Sekarang ikut model. Yang sering membuat kita tidak pernah puas itu sebetulnya adalah ‘LIFE STYLE’ alias gaya hidup, bukan ‘LIFE NEED’ alias kebutuhan hidup. Kita harus bisa mengendalikan diri dan merasa cukup, supaya tidak terseret ke dalam keserakahan dan bisa menjalani hidup dengan rasa syukur. Dewasa ini, ada begitu banyak godaan yang menyeret kita ke dalam cara hidup yang tidak pernah merasa cukup. Godaan-godaan itu antara lain ‘MATERIALISME, HEDONISME’ alias keinginan daging dan keangkuhan hidup.

Bagaimana belajar mencukupkan diri?

  • Bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tentang makan, misalnya makan ayam goreng. Ada banyak pilihan tempat makan ayam goreng. Tetapi orang memilih makan di MCD, meskipun lebih mahal karena foto artis Korea. Ini adalah keinginan.
  • Memenuhi kebutuhan dan mengendalikan keinginan, tidak tergoda menjadi konsumtif. Ini bisa disiasati dengan cara menulis kebutuhan-kebutuhan yang akan dibeli sebelum belanja ke toko. Diluar yang telah ditulis, harus tidak dibeli. Tidak mudah tergiur barang-barang yang dipajang dan dipamerkan.
  • Dalam keuangan, pengeluaran tidak boleh melebihi pemasukan. Jangan sampai besar pasak daripada tiang.
  • Hidup dalam realita ‘HERE and NOW’ alias di sini dan saat ini. Misalnya: pengantin baru, belum punya rumah dan belum mampu membangun rumah sendiri. Ada beberapa alternatif sebagai cara mengatasinya. Bisa ikut mertua atau orang tua sambil terus menabung, atau kontrak rumah. Contoh lain: sebuah keluarga ingin pergi bersama. Ada suami, isteri dan dua orang anak yang sudah besar, padahal sepeda motor hanya satu. Dalam hal ini bisa naik grab atau gocar.
  • Tetap memiliki semangat dan daya juang untuk memperbaiki diri, sambil menjaga diri tidak terseret dalam keserakahan.
  • Bersyukur kepada Tuhan atas apa yang kita miliki.

Sebagai penutup, marilah kita renungkan dan hayati Surat Paulus Kepada Jemaat di Filipi 4:11-13: ‘Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku’.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

News Feed