by

BAKMI CINTA

-Artikel-195 views

Saya dibesarkan dalam keluarga besar. Saya bersebelas saudara: tujuh laki-laki, empat perempuan. Waktu itu, kami belum memiliki rumah sendiri, jadi kami sering pindah rumah. Apabila kontrak habis, kami pindahan. Rumah yang bapak kontrak pun sangat sederhana dan kecil, karena uangnya tidak cukup untuk kontrak rumah yang besar. Jadi kalau tidur, kami ‘untel-untelan’ alias berjubel. Bayangkan, satu rumah kecil dihuni oleh empat belas orang: kami anak-anak sebelas orang, bapak, ibu dan seorang pembantu. Kami sekeluarga betul-betul hidup sangat-sangat sederhana, karena keterbatasan keuangan. Bagaimana tidak dalam keterbatasan? Bapak adalah pencari nafkah tunggal. Bapak harus menyediakan makan untuk empat belas mulut, tiga kali sehari. Belum lagi biaya sekolah. Maka, kami anak-anak karena keuangan yang mepet, semua kalau sekolah tidak pernah ada uang saku. Semua hidup dalam keprihatinan. Sekolah pun harus jalan kaki karena tidak mempunyai sepeda.

Hidup kami sungguh sangat minim. Tinggal di rumah yang kecil. Makan sangat sederhana: nasi, sayur dan lauk satu macam. Bisa tempe, tahu atau krupuk bolong. Lauk seperti: daging, ayam dan ikan, kami tidak bisa menikmatinya, di luar jangkauan. Sekolah tanpa uang saku dan jalan kaki. Saya waktu itu masih SMP di Yogyakarta. Rumah kontrakan waktu itu di Kuncen, daerah Wirobrajan (Yogya bagian barat utara). Saya sekolah di SMP Marsudi Luhur I, yang terletak di Bintaran, belakang Gereja (Yogya bagian timur agak selatan). Jarak dari rumah sampai sekolah lumayan jauh. Karena keadaan keuangan yang sungguh sulit, sekolah jalan kaki pun masih di tambah tidak pakai sepatu. Kalau pas pulang sekolah, panas sekali sehingga kaki sampai melepuh dan harus di-insisi atau dikempiskan di RS. Mangkuwilayan.

Sebagai seorang bapak yang mencintai keluarga, bapak sering merasa iba terhadap anak-anaknya. Bapak nampak sekali ingin membahagiakan anak-anaknya. Namun, sekali lagi uang yang serba terbatas menjadikan keinginan bapak tidak bisa terpenuhi. Namun, ada satu hal yang bapak lakukan untuk membahagiakan seluruh anggota keluarga. Pada hari gajian, bapak pasti membelikan ‘BAKMI’ untuk seisi rumah. Ceritanya begini: Setiap malam, jalan di depan rumah selalu dilewati orang jual bakmi ‘tik-tok’, namanya Pak Wongso. Kalau pas lewat depan rumah, sudah malam sekali sekitar jam dua belas atau setengah satu malam. Kami sudah tidur lelap, kecuali bapak yang sengaja tidak tidur menunggu bakmi lewat, sambil mendengarkan siaran wayang kulit dari RRI Yogyakarta. Nah, kalau bakmi sudah datang, bapak langsung menyetop Pak Wongso. Kemudian, ibu membangunkan semua untuk makan bakmi. Satu per satu, anak-anak dibagunkan. Saya, anak yang paling sulit dibangunkan. Ibu biasanya membangunkan saya sambil berkata: ‘Pri, bangun. Pri, bangun’. Reaksi saya biasanya hanya ‘ngolet’ saja. Malas rasanya bangun. Lebih enak tidur. Tengah malam kok dibagunkan. Tetapi setelah ibu bilang: ‘Itu lho dibelikan bakmi bapak’, saya langsung bangun dan ‘njrantal’ alias lari untuk menyantap bakmi. Di tengah malam, kami berempat belas makan bakmi. Saat seperti ini, bagi kami sungguh merupakan saat yang menggembirakan dan membahagiakan. Mungkin bakmi bagi orang lain dianggap makanan yang biasa. Tetapi bagi kami, bakmi adalah makanan yang luar biasa.  Dalam hidup harian, kami tidak pernah makan bakmi. Bakmi semakin menjadi bakmi yang luar biasa bagi kami sekeluarga, karena bakmi itu dibeli oleh seorang bapak yang ingin membahagiakan keluarganya atas dasar cinta. Inilah bakmi spesial ‘BAKMI CINTA’. Sebulan sekali kami sekeluarga menikmati ‘BAKMI CINTA’.

Karena begitu senangnya bisa menikmati ‘BAKMI CINTA’ sebulan sekali, beberapa hari sebelum bapak gajian, saya sudah membayangkan sepiring bakmi. Sampai sekarang, setiap kali makan bakmi, saya selalu teringat bapak. Setiap makan bakmi, bagi saya menjadi momen untuk merenungkan secara singkat seorang tokoh cinta dalam keluarga yaitu: ‘BAPAK’. Melalui ‘BAKMI CINTA’nya saya belajar bagaimana mewujudkan cinta bagi orang-orang di sekitar kita, khususnya keluarga. Kadang tanpa saya sadari pada saat mengenang bapak, bisa mengalir air mata. Contoh dan teladan konkret ungkapan cinta bapak kepada keluarga, saya lanjutkan pada saat saya menjadi seorang bapak, sebagai ungkapan cinta saya kepada anak-anak dan keluarga. Kalau bapak saya ungkapannya dengan ‘BAKMI CINTA’, saya dengan ‘SNACK CINTA’ berupa makanan kecil seperti: kacang atom, macaroni, marning, dll.

Dalam situasi pandemi covid 19 dan tidak pasti ini, saya memastikan ada cinta lewat hal-hal sederhana, salah satunya adalah ‘SNACK CINTA’. Setiap pagi, saya beli snack untuk keluarga sebagai snack sehari.

Itulah cerita tentang ‘BAKMI CINTA’. ‘We love you, we need you’.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed