by

Apakah Allah Selalu Menjawab Doa Kita?

-Artikel-568 views

Wartaindonews — Pernahkan Anda menyangsikan atau meragukan bahwa Allah selalu menjawab doa-doa Anda? Apabila Anda tidak segera mendapat jawaban atas doa Anda, iman Anda kadang melemah? Apakah Anda ingin menjadikan doa sebuah kekuatan yang besar dalam hidup Anda? Pertanyaan-pertanyaan ini cepat atau lambat akan muncul dalam benak hampir setiap orang. Namun demikian apabila Anda bersedia membuka Kitab Suci, Anda akan menemukan di sana bagaikan permata bertebaran di atas permadani ungu kepastian bahwa Allah sungguh-sungguh menjawab doa Anda. Karena seluruh Kitab Suci penuh doa-doa yang mengagumkan dan doa yang paling mengagumkan adalah ‘Doa dari segala Doa’, yaitu Doa Tuhan ‘Bapa Kami’.

Berbicara mengenai doa, Allah tidak pernah tidak menjawab doa-doa kita. Allah akan memberi jawaban doa kita dari salah satu jawaban Allah. Semua jawaban itu adalah ungkapan kasih dan kebijaksanaanNya yang tak terbatas. Adapun empat jawaban doa dari Allah adalah: ‘Ya’, ‘Tidak’, ‘Tunggu’, ‘Ini sesuatu yang lebih baik’.

Saya yakin tentu semua orang menginginkan jawaban ‘Ya’ terhadap doa permohonannya. Jawaban sesuai dengan yang diinginkannya. Bila ini yang terjadi, pasti orang itu akan bergembira. Selain bergembira ini juga semakin menebalkan imannya. Ternyata Tuhan Maha Baik, mengabulkan permohonannya. Sebagai ungkapan kegembiraan biasanya orang lalu mengadakan syukuran. Ada yang bersyukur dengan mengintensikan syukurnya pada perayaan Ekaristi di gereja. Ada yang menyelenggarakan misa syukur di rumah dengan mengundang umat selingkungan dan teman-teman dekat. Bahkan bagi orang berduit, syukuran dilaksanakan di restoran atau hotel yang mewah. Saya juga beberapa kali menghadiri syukuran semacam itu. Ada syukuran lulus perguruan tinggi. Ada bersyukur atas kelahiran bayi yang bertahun-tahun ditunggu kelahirannya. Ada yang bersyukur sembuh dari sakit. Ada juga yang bersyukur atas promosi jabatan. Itulah jawaban ‘Ya’.

Jawaban terhadap doa permohonan yang kedua adalah ‘Tidak’. Jawaban ‘Tidak’ ini tentu sangat berbeda dengan ‘Ya’. Bahkan bukan hanya berbeda melainkan berseberangan. Bagaimana tidak. Reaksi terhadap jawaban ‘Ya’: menggembirakan, menebalkan iman dan syukur. Reaksi terhadap jawaban ‘Tidak’: mengecewakan, menggoncangkan iman, bisa jadi orang menjadi marah bahkan mutung tidak mau berdoa atau ke gereja. Bahkan ada lho, orang yang aktif di pelayanan di gereja tetapi setelah doanya tidak dikabulkan lalu mengundurkan diri dari segala pelayanan gereja. Untuk jawaban ‘Tidak’ ini, saya mempunyai pengalaman pribadi yang sangat mengesankan. Ceritanya begini: Pada umumnya orang berpacaran mulai pada masa remaja. Saya melihat teman-teman sebaya saya bahkan sudah banyak yang berpacaran. Saya tidak atau belum mau berpacaran. Mengapa? Karena saya mau fokus pada study saya. Saya ingin cepat selesai kuliah. Dan satu obsesi saya, saya ingin segera bekerja, agar saya bisa membantu ayah saya yang bekerja seorang diri untuk menghidupi keluarga saya yang besar (saya sebelas bersaudara). Baru setelah saya bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, sudah bisa meringankan beban ayah, saya baru mulai memikirkan pacaran.

Saya mulai mendekati seorang cewek. Dan kami akhirnya pacaran. Dan saya berpikir tentang membangun rumah tangga. Saya rajin berdoa dengan permohonan agar saya bisa menikah dengan pacar saya ini. Tentunya saya berharap doa saya dijawab ‘Ya’ oleh Tuhan, artinya dikabulkan dan saya menikah. Tetapi apa jawab Tuhan ‘Tidak’. Seketika itu hancur hati saya. Saya kecewa, protes, marah pada Tuhan. Pacar saya mengkhianati saya. Diam-diam pada waktu kami masih berhubungan, dia sudah berhubungan dengan cowok lain. Untungnya saya masih punya nalar waras dan pengendalian diri yang baik. Memang untuk beberapa waktu, saya limbung. Ritme kerja jadi kacau. ‘Time heals the wound’, waktu akan menyembuhkan luka. Seiring berjalannya waktu, saya bisa melupakan peristiwa itu. Saya kembali tegar menjalankan hidup harian saya.

Singkat cerita, akhirnya saya menikah dengan orang lain yang sekarang menjadi isteri saya. Suatu hari kami sekeluarga menengok orangtua di Yogya. Saat itu saya ketemu teman saya yang juga adalah teman mantan pacar saya. Dia bercerita pada saya: ‘Untung Is, kamu tidak jadi nikah dengan dia. Andai kata kamu nikah dengan dia, kamu pasti ‘ngenes’ (merana), karena dia berprofesi yang tidak baik. Kamu tiap malam akan ditinggal sampai pagi’. Mendengar cerita teman ini, sikap saya terhadap jawaban doa ‘Tidak’, menjadi berubah. Dulu saya kecewa, protes, marah. Sekarang saya bersyukur. Ternyata dengan jawaban ‘Tidak’, Tuhan mempunyai tujuan yang baik, yaitu agar saya menikmati hidup pernikahan yang baik. Dari sini saya belajar memetik hikmah. Memetik hikmah dari suatu peristiwa biasanya tidak langsung dirasakan pada saat peristiwa terjadi, tetapi butuh waktu… bisa singkat tetapi bisa lama. Saya mengalami cukup lama, bertahun-tahun. Melihat hikmah itu ibarat melihat sebuah lukisan. Apabila kita melihat lukisan sampai lukisan itu menempel mata, kita tidak bisa melihat itu lukisan apa. Perlu ada jarak. Maka lukisan kita undurkan. Setelah diundurkan, kita bisa melihat lukisan tersebut dengan jelas.

Jawaban Tuhan yang ketiga terhadap doa kita adalah ‘Tunggu’. Bisa jadi ada orang yang mempunyai permohonan dan sudah banyak berdoa. Bahkan dia sudah berdoa bertahun-tahun, namun doanya seolah-olah tidak dikabulkan. Dan banyak orang yang mengalami hal seperti ini menjadi ‘nglokro’, menyerah dan putus asa. Mengenai jawaban ‘Tunggu’ ini terjadi dalam keluarga ayah dan ibu saya. Ini dialami oleh salah satu adik saya. Setelah selesai study, dia cukup lama menganggur. Dia hanya di rumah saja. Apa yang dia lakukan? Berdoa mohon mendapat pekerjaan. Itu dia lakukan dengan rajin. Tetapi hasilnya nol. Dia tetap menganggur. Mengapa Tuhan menjawab ‘Tunggu’? Karena Tuhan ingin bekerjasama dengan orang yang mohon sesuatu. Tuhan tidak mau orang yang pasrah bongkokan pada Tuhan dan tidak ambil bagian demi terwujudnya permohonan itu. Ibarat seorang naik sampan, dia harus mengayuh. Dia harus mengayuh bergantian. Mengayuh sisi kiri sampan, kemudian sisi kanan sampan, agar sampan bergerak maju sampai tujuan. Kalau orang hanya mengayuh pada satu sisi saja, kiri misalnya, sampan akan terus berputar ke kiri terus. Sebaliknya, bila orang hanya mengayuh sisi kanan sampan, sampan juga hanya akan berputar ke arah kanan. Sampan tidak akan sampai ke tujuan. Maka, kalau menghendaki doa permohonan kita terkabul, kita harus mengayuh sampan kita dengan kayuh ‘ORA ET LABORA’ (Berdoa dan bekerja). Adik saya akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan, setelah dia tidak hanya berdoa saja tetapi juga mau mencari informasi lowongan kerja. Dia pergi ke Depnaker, perusahaan-perusahaan. Pendeknya, dia berusaha.

Jawaban terhadap doa permohonan yang keempat adalah ‘Inilah sesuatu yang lebih baik’. Disini, doa permohonan seseorang tidak dijawab sesuai permohonannya oleh Tuhan. Manusia itu, wawasannya sempit maka dia meminta kepada Tuhan hal-hal yang kecil, remeh di mata Tuhan. Tuhan memiliki segala-galanya. Maka pada saat orang meminta hal-hal yang kecil yang remeh di mata Tuhan, Tuhan tidak mengabulkannya. Tuhan menolak permohonannya dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik dan berharga. Ibarat anak seorang petani kecil yang tinggal di pelosok desa yang setiap hari makan hanya dari hasil tanamannya. Dia tidak mengenal jenis makanan lain yang lebik enak. Pada saat Omnya pulang menengoknya, dia mengajak anak petani itu ke kota untuk melihat-lihat kota. Ketika diajak makan Omnya di sebuah restoran yang besar dengan berbagai macam menu masakan, Omnya bertanya mau makan apa. Dia menjawab: nasi dengan lodeh tering dan tempe goreng. Tetapi Omnya tidak menuruti permintaannya karena memang tidak tersedia. Omnya memilihkan makanan yang enak dan anak itu belum pernah makan. Omnya memilihkan menu yang terenak. Nah, itulah jawaban Tuhan ‘Inilah sesuatu yang lebih baik’.

Kalau dalam sejarah contoh yang sangat fenomenal adalah mengenai Columbus. Dia memohon kepada Tuhan, agar ditunjukkan rute pendek ke India (rute perdagangan), tetapi Tuhan tidak mengabulkan. Sebagai gantinya, Columbus justru ditunjukkan rute ke Amerika. Maka, dia kemudian dikenal sebagai penemu benua Amerika. Namanya menjadi terkenal di dunia. Tuhan memberikan sesuatu yang lebih besar dan lebih baik.

Maka marilah kita dengan rela hati dan ikhlas menerima jawaban Tuhan, apapun jawabannya: ‘Ya’, ‘Tidak’, ‘Tunggu’, ‘Ini sesuatu yang lebih baik’, karena semua jawaban ini mau menunjukkan kasih dan kebijaksanaanNya yang tidak terbatas kepada kita.

 

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

News Feed