by

ANAK KECIL ADALAH PENIRU ULUNG

-Artikel-167 views

Berbicara mengenai perkawinan, dalam Kanon 1055 paragraf 1 dikatakan tujuan perkawinan adalah membangun persekutuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Persekutuan itu persekutuan seluruh hidup, tujuannya terwujudnya kesejahteraan suami isteri (Bonum Coniugum) serta kelahiran dan pendidikan anak. Jadi, orang menikah tidak boleh menolak kelahiran anak bila Tuhan mengaruniakannya. Dan bila kelak anak-anak terlahir, orangtua mengemban tugas mulia untuk menjadi pendidik pertama dan utama. Tugas ini adalah tugas mulia dan luhur, tetapi sekaligus tugas yang tidak mudah, banyak tantangannya. Orangtua sebagai pendidik pertama dan utama artinya orangtua adalah ‘Guru’ yang dalam bahasa Jawa sering diartikan ‘Digugu’ lan ‘Ditiru’. Dalam bahasa Indonesia artinya ‘Dituruti’ dan ‘Ditiru’. Maka orangtua menjadi model. Sebagai model orangtua harus berlaku bijaksana agar menjadi model yang baik bukan sebaliknya. Hendaknya orangtua menjadi model dalam hal keutamaan-keutamaan: peduli, jujur, rendah hati, dll. Ini sangat penting karena anak kecil adalah peniru ulung. Apa yang dia lihat, dengar dan alami akan ditiru.

Mengenai ‘Anak kecil adalah peniru ulung’, saya mempunyai pengalaman yang menarik. Tetapi pengalaman saat ini, bukan pengalaman anak-anak saya, karena mereka sudah dewasa. Pengalaman ini adalah pengalaman dengan anaknya, jadi cucu saya. Ceritanya begini: Anak saya meski sudah berkeluarga dan mempunyai rumah sendiri, selalu menitipkan anaknya pada saya karena orangtuanya bekerja semua. Dengan begitu cucu saya sehari-hari selalu bersama kami kakek dan neneknya. Maka dengan sendirinya kami berdua menjadi model bagi pertumbuhan atau perkembangan kepribadiannya. Bukan berarti orangtuanya tidak mempunyai peran apa-apa. Mereka tetap mempunyai peran mendampingi, tetapi porsinya lebih kecil karena hanya pada waktu malam hari sebelum tidur. Mereka mendampingi anaknya lebih-lebih dalam belajar ‘online’ karena pandemi corona.

Pada beberapa kejadian atau peristiwa, saya dibuat terheran-heran oleh perilaku cucu saya yang mengesankan. Misalnya pernah suatu saat saya mencari dia di dalam rumah. Saya kok tidak mendengar suaranya, padahal biasanya dia selalu dalam tanda kutip ‘berisik’. Dia termasuk tipe anak yang ceria dan sangat ekspresif. Menurut pengamatan saya, dia termasuk tipe ‘Sanguinis’. Dia suka bernyanyi, bercerita, berkreasi membuat mainan dari kertas, dll. Setelah beberapa kali saya panggil tidak ada jawaban, saya mencari dia dari kamar ke kamar. Akhirnya, saya menemukan dia sedang duduk diam dengan mata terpejam dan tangan dalam posisi bersujud. Saya tidak mau mengganggunya, saya biarkan dia seperti itu sampai selesai. Setelah selesai, baru saya bertanya padanya apa yang sedang dia lakukan. ‘Carissa, kamu tadi sedang apa?’ tanya saya. ‘Sedang berdoa’, jawabnya. Alangkah gembira saya dan terheran-heran. Dia melakukan ini tidak hanya sekali saja. Ternyata dia meniru apa yang saya lakukan ‘Berdoa’. Tanpa saya sadari, dia mengamati kalau saya sedang berdoa. Saya paling tidak berdoa dua kali di kursi saya di dalam kamar saya. Kursi itu sengaja saya beli khusus untuk berdoa. Saya tentu senang melihat cucu saya meniru hal-hal yang baik. Nah, disini pentingnya menjadi model bagi anak. Tentu ini bukan hanya tugas atau tanggungjawab orangtua. Orang lain yang tinggal serumah dengan anak juga ikut menjadi model keteladanan untuk hal-hal yang baik. Dia bahkan sering minta izin untuk memimpin doa malam sebelum tidur. Doa yang sederhana, namun sangat bagus. Satu per satu nama anggota keluarga disebut. Dia mendoakan kesehatan ayah, ibu, kakek, nenek dan budenya.

Kebiasaan lain yang terbentuk selain berdoa adalah tidur siang. Kami, saya dan isteri, mempunyai kebiasaan tidur siang sekitar jam 13.00. Saya selalu menyetel alarm HP untuk mengingatkan jam tidur siang. Begitu alarm berdering, kami langsung menuju ranjang dan dia mengikuti. Kami biasa menyebutnya ‘BBT’ alias ‘bobok bareng bertiga’. Kalau jam 13.00, dia masih ada teman yang sedang bermain dengannya, temannya saya minta pulang dulu, nanti boleh main lagi setelah cucu saya bangun.

Ada juga kebiasaan saya yang lain yang tanpa saya sadari ditiru oleh cucu saya, yaitu ‘membaca dan menulis’. Dalam kurun waktu satu tahun, toko buku Gramedia selalu ada membuka pameran buku dengan diskon. Sebagai penggemar buku, saya selalu mengujungi event ini untuk membeli buku karena murah. Selain itu, bukunya juga banyak yang bermanfaat. Pernah di salah satu pameran itu, saya melihat buku-buku yang menarik, yaitu buku tentang perjalanan wisata dari berbagai negara seperti: Cina, Spanyol, India, Kepulauan Britania, Jepang, Perancis, Australia, Karibia, Brasil, Rusia, Thailand dan Singapura. Buku-buku sangat menarik, lebih-lebih bagi anak kecil karena banyak gambar pemandangan atau tempat yang menarik. Bagi cucu saya, yang paling menarik adalah Singapura.

Karena hampir setiap hari, cucu saya melihat saya menulis, dia akhirnya sering menulis juga. Tulisannya lucu-lucu. Salah satu tulisannya saya kutip disini. Inilah tulisannya, ditulis bersamaan waktunya pada waktu saya menulis artikel ini. Judul tulisannya ‘Aku bersahabat dengan Engkong’. (Engkong adalah sapaan sayang untuk saya).

Engkongku sering memberikan sesuatu aku juga sering lihat Engkong di kamar tidurnya seru kalau ada Engkong walau Engkong sudah tua aku tetap main sama Engkong seru loh ini Engkong sedang suka menulis sejak covid 19 terus Engkong nulis aku judulnya (Anak Kecil Adalah Peniru Ulung) Engkongku sudah banyak nulis ada 52 ok terima kasih
Saya tidak mengedit tulisannya. Saya biarkan tulisannya orisinil, maka tidak ada titik koma.

Sebagai penutup tulisan ini, saya akan membagikan pengalaman yang bagi saya sangat mengesankan dan mengharukan. Sebagai anak yang masih kecil, tentu saja cucu saya tidak selalu bisa memenuhi segala kebutuhannya karena kendala fisik yang pendek misalnya. Maka dalam hal tertentu, dia butuh pertolongan orang lain. Dalam hal ini saya sering menolong dia, yang bagi saya adalah hal atau perkara kecil, namun bagi dia merupakan kesulitan besar. Kongkritnya misalnya, dia butuh gunting tetapi gunting ada di atas bufet yang tinggi. Dia tidak bisa meraihnya, maka dia akan minta tolong saya. ‘Kong, tolong ambilkan gunting Kong’. Juga kalau dia akan keluar rumah karena mau bermain bersama teman, padahal pintu dalam keadaan di-slot kunci dan tinggi. Maka, dia akan berteriak-teriak minta tolong. ‘Kong.. Kong, tolong bukakan pintu’. Nah, apa yang saya lakukan ini, sekarang dalam tanda kutip menjadi ‘bumerang’ dalam pengertian positif. Maksudnya, sekarang dia peduli dengan saya, apalagi saya mengalami kesulitan berjalan. Maka, kalau saya akan makan dan dia mengetahuinya, dia akan melayani saya. Dia akan mengambilkan peralatan makan untuk saya lengkap: piring, sendok, garpu dan gelas yang sudah diisi air putih. Ini pengalaman yang sungguh mengesan dan mengharukan bagi saya.

Nah, itulah cerita kecil tentang apa yang cucu saya lakukan dari buah pengamatannya dengan melihat, mendengar dan mengalami. Maka sebagai orangtua, kita diingatkan dan diajak menjadi model keteladanan yang memberi contoh yang baik. Dengan demikian harapannya kelak anak-anak kita menjadi pribadi-pribadi yang baik juga. Sebagai penutup, mari kita renungkan, resapi dan lakukan dalam hidup harian kita, ucapan yang benar dari seorang filosof bernama Seneca: ‘LONGUM ITER EST PER PRAECEPTA, BREVE ET EFFICAX EXEMPLA’. Yang artinya: ‘MELALUI PERINTAH JALANNYA PANJANG, MELALUI TELADAN JALANNYA PENDEK DAN BERDAYA GUNA (EFEKTIF). Semoga.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed