by

Amor Omnia Vincit

-Artikel-196 views

Mengikuti pemberitaan baik media cetak seperti koran maupun media elektronik mengenai sikap atau perilaku orang hidup jaman now bisa membuat hati ini miris. Bagaimana tidak, setiap hari kita disuguhi dengan berita-berita yang tidak menyenangkan bahkan mengerikan, seperti pembunuhan misalnya. Kejahatan satu ini terjadi seperti iklan Coca Cola ‘Siapa saja, Kapan saja, Dimana saja’ bahkan bisa ditambahkan ‘Dengan cara apa pun juga’. Ini berarti pembunuhan bisa menimpa sejak bayi, anak-anak, remaja, dewasa atau lansia.  Pembunuhan bisa dialami oleh perempuan maupun laki-laki. Pembunuhan bisa terjadi di pagi hari, siang hari, sore hari maupun malam hari. Pembunuhan bisa terjadi di hotel, di jalan, di tempat hiburan bahkan di rumah atau di dalam keluarga. Cara orang membunuh sesamanya pun bisa bermacam-macam. Dengan menggunakan senjata api, senjata tajam, pengeroyokan beramai-ramai, memukul, menendang, dll sampai orang yang dikeroyok meninggal. Motif pembunuhan pun bisa berbeda-beda atau bermacam-macam. Perampokan, balas dendam, persaingan, tawuran antar kelompok, dll.

Hal lain yang membuat rakyat tidak sejahtera padahal negara kita tercinta ini berlimpah sumber alamnya: minyak, emas, dll. Ini karena kekayaan alam tidak digunakan demi kesejahteraan rakyat. Kekayaan dinikmati hanya oleh orang tertentu yang mempunyai kuasa. Uang negara pun banyak dikorupsi oleh pejabat negara. Uang yang semestinya bisa mengangkat kesejahteraan rakyat yang miskin.

Banyak juga ditemukan yang namanya lembaga perkawinan ambyar. Keluarga yang merupakan sel negara dan sel gereja hancur. Keluarga hancur, negara dan gereja kena dampaknya juga. Kualitas negara dan gereja ditentukan oleh kualitas keluarga.

Masih ada juga di jaman sekarang ini, perlakuan semena-mena terhadap pembantu rumah tangga oleh majikan. Dari penganiayaan fisik seperti: pemukulan, di siram air panas sampai tidak memberikan gaji yang menjadi hak pembantu rumah tangga sebagai imbalan kerjanya.

Semua peristiwa tadi: pembunuhan, korupsi, keluarga ambyar, penganiayaan, dll terjadi karena tiadanya cinta. Cinta tidak menjadi cara bereksistensi manusia. Maka yang muncul dalam hidup sehari-hari yang ditonjolkan egoisme, pokoknya saya puas saya mencapai apa yang menjadi obsesi atau ambisi saya, tidak peduli orang lain jadi korban. Disini orang tidak melihat sesama sebagai sahabat ‘Homo Homini Socius’ tetapi sebagai serigala bagi sesamanya ‘Homo Homini Lupus’. Ungkapan ‘Homo Homini Lupus’ kian mengakar dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat. Demi popularitas diri, demi kenaikan jabatan, pangkat dan karir, orang tak segan-segan ‘makan’ temannya sendiri. Orang dengan mudahnya memfitnah sesama, saling menjatuhkan, menjilat atasan atau mencari muka, dsb. Disini manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Itulah kenyataan hidup yang terjadi apabila manusia tidak menggunakan cinta sebagai satu-satunya cara bereksistensi.

Nah, kehidupan seperti apa yang akan terjadi apabila manusia menggunakan cinta sebagai satu-satunya cara bereksistensi?

Pada level cinta, kita menjadi tulus, murah hati, peduli, penuh kasih, tabah, pemaaf. Cinta itu melindungi, kolaboratif, meneguhkan dan menyenangkan. Ini ditandai dengan kehangatan, rasa syukur, apresiasi, kerendahan hati, kemurnian motif.

Cinta adalah cara bereksistensi yang mengatakan: ‘Bagaimana aku bisa membantumu? Bagiamana aku dapat menghiburmu? Bagaimana aku sanggup membantumu memperoleh pekerjaan? Bagaimana aku menghiburmu ketika anggota keluargamu meninggal? Bagaimana aku mampu meminjamkan uang kepadamu ketika kamu bangkrut?’

Situasi kehidupan manusia sangat membutuhkan terjemahan nyata pertanyaan-pertanyaan atau tawaran-tawaran diatas dalam realita hidup harian, lebih-lebih pada saat pandemi corona ini. Kita bisa membantu orang yang mengalami kesulitan untuk bisa memenuhi kebutuhan paling dasar manusia, yaitu makan. Banyak orang mengalami kesulitan untuk bisa makan karena kondisi ekonominya terpuruk, karena PHK atau kehilangan pekerjaan. Banyak perusahaan yang mengurangi karyawan atau karyawati bahkan sampai menutup perusahaan.

Kita bisa menghibur sesama yang stres. Banyak pendampingan keluarga lewat webinar bagi semua orang, mulai dari bayi, anak, remaja, dewasa sampai lansia. Banyak sudah korban nyawa akibat terpapar corona. Banyak keluarga berduka atas meninggalnya anggota keluarga. Mereka membutuhkan penghiburan, peneguhan agar bisa melanjutkan perjuangan hidupnya kembali.

Mengapa cinta harus menjadi cara bereksistensi manusia? Karena manusia diciptakan oleh Allah Sang Sumber Cinta. Kalau kita mengaku sebagai ciptaan Allah Sang Sumber Cinta, secara otomatis kita juga harus hidup berdasarkan cinta.

Situasi mewabahnya covid 19 ini, lebih banyak orang membutuhkan cinta. Tuhan bisa jadi mengizinkan corona terjadi dengan maksud agar orang meninggalkan cara-cara hidup yang tidak baik yang mengorbankan sesama. Tuhan ingin mengubah paradigma hidup ‘Homo Homini Lupus’ menjadi ‘Homo Homini Socius’.

Mari kita bergandeng tangan bersama untuk mewujudkan ‘CINTA’. Menolong sesama yang membutuhkan. ‘Cinta Mengalahkan Segalanya’. ‘Amor Omnia Vincit’.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed