by

AMICUS OPTIMA VITAE POSSESSIO

-Artikel-264 views

Manusia dari kodratnya oleh Sang Pencipta diciptakan sebagai mahkluk sosial. Artinya, manusia diciptakan untuk hidup bersama dengan yang lain, tidak hidup sendiri terpisah dari yang lain. Sebagaimana dikatakan oleh Martin Buber, seorang filosof Yahudi: ‘Keberadaan kita adalah keberadaan bersama yang lain’. Jadi, manusia tidak bisa hidup sendiri terpisah dari yang lain. Sebagaimana diucapkan oleh John Donne, seorang penyair Inggris: ‘No man is an island’. Maka sejak lahir, manusia ingin hidup bersama yang lain. Sejak awal kehidupan sampai akhir kehidupan, manusia ingin selalu hidup bersama yang lain. Semakin besar dan tambah usia, semakin luas area pertemanan atau persahabatannya. Motivasi atau latar belakang persahabatannya pun berbeda-beda dan beranekaragam. Biasanya persahabatan terbangun oleh persamaan ketertarikan atau hobi. Misalnya: sama-sama tertarik olah raga seperti sepak bola, basket, volley, badminton, ping pong, berburu, mendaki gunung, dll. Ini biasanya kelompok muda. Untuk kelompok tua, persahabatan bisa terbentuk karena sama-sama tertarik dalam bidang spiritualitas, olah batin, dll. Pendeknya, sama minat atau ketertarikan. Pepatah Inggris mengatakan: ‘BIRDS OF FEATHER FLOCK TOGETHER’. Burung yang berbulu sama, bergerombol bersama. Jadi, orang akan berkumpul sendiri secara alami.

Namun, kelompok persahabatan juga terbangun bukan atas dasar hobi atau minat atau ketertarikan yang sama. Banyak kelompok persahabatan yang terbangun atas dasar perjuangan yang sama pada saat sekolah atau pendidikan. Maka, tidak mengherankan kalau dewasa ini ada begitu sangat banyak kelompok persahabatan alumni suatu angkatan pada waktu menjalani pendidikan. Mulai dari SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi. Itu pun masih dirinci menurut tahun angkatan, jurusan, dll. Sehingga di zaman informasi dan komunikasi ini, satu orang bisa masuk dalam WAG sampai banyak sekali. Memang menyenangkan adanya, bisa saling tukar informasi, berkabar kabari, saling ejek mengejek dalam pengertian bercanda, saling mendoakan bila ada yang sakit atau sedang menempuh ujian, ikut bergembira atas peristiwa yang menggembirakan seperti: kelahiran anak, ulang tahun baik kelahiran maupun perkawinan, promosi jabatan, rumah baru, dll. Pokoknya, mempunyai sahabat itu ‘nyenengkeh’ alias menyenangkan.

Saya sendiri mempunyai sebuah pengalaman yang indah dan mengesankan bersama dengan seorang sahabat. Sebut saja nama sahabat saya ini ‘Waldo’ (bukan nama sebenarnya). Kami berdua banyak melakukan kegiatan bersama, baik kegiatan rohani maupun kegiatan yang bersifat rekreasi. Dalam hal yang bersifat rohani, kami tiap pagi mengikuti perayaan ekaristi harian. Waldo setiap pagi menjemput saya. Kadang-kadang kami berziarah ke Goa Maria Kerep Ambarawa atau yang dekat ke Goa Maria Mojosongo. Pernah juga, kami mengikuti kursus teologi selama 3 (tiga) semester yang diselenggarakan oleh Fakultas Teologi Sanata Dharma di Seminari Tinggi Kentungan. Kursus diselenggarakan tiap Kamis, jam 17.00-19.00 WIB. Kami biasanya berangkat dari rumah jam 14.00 WIB. Kemudian mampir ke Taman Komunikasi Kanisius Yogya untuk lihat-lihat dan kalau ada buku yang kami suka, ya kami beli. Kami juga pernah mengikuti pertemuan nasional meditasi kristiani yang dihadiri Romo Lawrence Freeman, pemimpin komunitas kristiani mondial dari London, Inggris. Tentu sampai disini yang saya ceritakan adalah sisi yang menyenangkan, yang manis. Dalam persahabatan tentu juga ada sisi yang tidak manis, yang pahit. Pasti diantara dua orang ada perbedaan-perbedaan, mulai dari hal kecil sampai yang besar atau prinsipiil, sehingga friksi atau gesekan tidak bisa dihindari. Tinggal bagaimana kita membicarakan perbedaan itu dengan tetap meletakkan persahabatan sebagai prioritas.

Maka supaya persahabatan terus langgeng, ada 5 (lima) prinsip kunci yang harus kita pegang, yaitu:

  1. SALING MENDUKUNG

Dukungan terhadap sahabat terwujud dalam tindakan memuji, menghibur, menguatkan hati, memberi masukan, memberi inspirasi, dsb.

 

  1. MEMBERI DAN MENERIMA (TAKE AND GIVE)

Dengan saling memberi dan menerima, maka antar sahabat berusaha saling melengkapi dan mengisi kekurangan yang ada. Prinsip kesalingan ini perlu dilandasi etika kesopanan.

 

  1. KEBEBASAN

Prinsip ini menegaskan bahwa antar sahabat tidak boleh memaksakan kehendak tetapi perlu saling menghargai privasi sahabatnya.

 

  1. KEUNIKAN

Prinsip ini menegaskan bahwa sabahat memiliki kekhasan yang berbeda dengan diri Anda. Terima dan hargailah ‘kelainannya’. Kelainannya akan memperkaya hidup Anda.

 

  1. KETERBUKAAN

Prinsip ini menegaskan bahwa antar sahabat perlu mengembangkan sikap saling terbuka. Keterbukaan perlu dibarengi oleh sikap saling menghormati, saling percaya dan saling mengampuni.

Kelima prinsip kunci diatas menjadi pilar dalam menjalin persahabatan sejati. Persahabatan sejati perlu dirawat dengan adanya komunikasi timbal balik dan dilestarikan dengan semangat keterbukaan, kebebasan dan saling mendukung.

Apabila kelima pilar persahabatan itu betul-betul dijalankan, maka persahabatan akan langgeng dan menyenangkan, menjadikan hidup bergairah. Dengan demikian seorang sahabat merupakan kekayaan paling besar dalam kehidupan. ‘AMICUS OPTIMA VITAE POSSESSIO’.

 

Penulis: Ph. Ispriyanto.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed