by

Acha, Wartawan Aceh Yang Menghentak Dunia Dengan ‘Bandjir Darah di Tanah Rentjong’

Wartaindonews — Achmad Chatib Ali atau sering disingkat menjadi Acha adalah sosok yang paling berjasa dalam mengungkap sebuah peristiwa pembantaian yg menewaskan 99 warga Aceh dalam tragedi berdarah Cot Pulot Jeumpa, Aceh Besar.

Lewat laporan investigasinya yang dimuat di Harian Peristiwa yang terbit di Kutaraja (Banda Aceh), Acha membuat dunia heboh.

Di Harian yang terbit sekitar tahun 1950-an itu Acha menurunkan laporan investigasinya yang bernas di halaman satu dengan judul “Bandjir Darah di Tanah Rentjong”.

Laporan tersebut kemudian secepat kilat menjadi santapan dunia internasional. Beberapa harian yang terbit di Jakarta seperti Indonesia Raya dan media terbitan luar negeri sepeti New York Times, Washington Post yang terbit di Amerika Serikat atau Asahi Simbun yang terbit di Jepang ikut mengutip laporan tersebut.

Warga Aceh di Jakarta melancarkan protes keras kepada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo agar mengirim misi menyelidiki kasus itu.

Sosok Acha dengan karya jurnalistiknya yang mumpini telah membuka mata dunia tentang tragedi pelanggaran HAM berat yang terjadi di Aceh dalam peristiwa berdarah di Cot Pulot Jeumpa, Aceh Besar.

Menurut wartawan senior Aceh Murizal Hamzah dalam tilisannya “Tragedi Cot Pulot Jeumpa Februari 1955”, peristiwa terbesar pada masa rezim Orde Lama itu diawali dari bentakan militer Indonesia yang menyeret warga berdiri berjejer di pantai.

Dalam amuk kemarahan yang membara-bara, prajurit TNI menggiring anak-anak, pemuda dan orangtua ke pantai Samudera Indonesia. Mereka diperintahkan menghadap lautan lepas.

Beberapa detik kemudian, tanpa ampun, moncong senjata otomatis memuntahkan ratusan peluru. Puluhan tubuh pria tewas membasahi pasir.

Dalam sejarah kelam, fakta ini dikenal dengan peristiwa Cot Pulot Jeumpa di Gampông Cot Pulot dan Gampông Jeumpa Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar pada Februari 1955.

Insiden yang meluluhlantakan nilai-nilai kemanusiaan diawali dari sehari sebelumnya sebuah truk militer membawa berdrum-drum minyak dan 16 tentara melintasi Cot Pulot.

Mendekat jembatan Krueng Raba Leupung, tentara Darul Islam yang dipimpin oleh Pawang Leman menghadang. Pawang Leman adalah mantan camat setempat yang pada zaman revolusi Indonesia berpangkat mayor.

Tembakan beruntun menyebabkan truk terbakar. Semua prajurit Batalyon B anak buah Kolonel Simbolon dan anggota Batalyon 142 dari Sumatera Barat anak buah Mayor Sjuib berguguran dijilat kobaran api.

Tentara Darul Islam menyebut pasukan Republik Indonesia dengan Tentara Pancasila.

Esoknya, satu peleton (berkekuatan 20-40) Tentara Republik merazia pelaku. Razia dari rumah ke rumah tidak membawa hasil. Kekesalan tentara sudah di ubun-ubun. Anak-anak hingga kakek yang ditemukan di jalan atau tempat bekerja digiring ke pantai.

Penembakan pertama pada Sabtu, 26 Februari 1955 yang dilakukan oleh Batalyon 142 terhadap 25 petani di Cot Pulot.

Penembakan kedua pada Senin, 28 Februari 1955 oleh Batalyon 142 terhadap 64 nelayan di Jeumpa.

Penembakan ketiga pada tanggal 4 Maret 1955 di Kruengkala. Akibatnya 99 jiwa meregang nyawa dengan rincian di Cot Jeumpa 25 jiwa, di Pulot Leupung 64 dan Kruengkala 10 jiwa. Usia termuda yang meninggal yakni 11 tahun dan paling tua berusia 100 tahun.

Pembantaian ini sebagai balas dendam terhadap rekan-rekannya yang ditembak oleh tentara Darul Islam. Indonesia menutup rapat-rapat pembantai warga sipil yang pertama dilakukan di Aceh oleh negara.

Suasana kekalutan itu semakin gempar dengan pemberitaan Surat Kabar Peristiwa pada awal Maret 1955. Isi koran yang terbit di Kutaradja ini dikutip oleh berbagai media ibukota di Jakarta dan internasional. Harian Peristiwa memuat nya dengan judul enam kolom di halaman pertama.

Disebutkan pada tanggal 26 Februari 1955 kira-kria jam 12 siang WSu (Waktu Sumatera) sepasukan alat-alat negara menangkap seluruh lelaki penduduk Cot Jeumpa yang didapati di rumah.

Mereka dikumpulkan di pinggir laut. Lalu tanpa periksa, seluruh pria itu ditembak hingga semua rebah bermandikan darah.

Peristiwa mewartakan pada tanggal 28 Februari 1955, kira-kira jam 12 siang WSu, orang berpakaian seragam menembak mati 64 warga Leupung.

Mereka ditangkap di rumah, sedang melempar jala, memancing dan lain-lain. Kemudian dikumpulkan di pinggir laut.

Peristiwa memberitakan, mayat-mayat yang bergelimpangan itu dikuburkan dalam dua lubang besar. Peristiwa juga memuat nama korban lengkap dengan umur dan tempat tinggal

Tentu militer Indonesia menolak publikasi Peristiwa. Komandan Tentara Teritorium I Bukit Barisan Pada tanggal 10 Maret 1955 memberi penjelasan kejadian sebagai berikut.

Pada tanggal 22 Februari 1955 sepasukan tentara yang ditempatkan di Lhong berangkat pagi-pagi jam 06.30 WSu, 16 tentara dari Peleton 32 Batalyon 142 menuju Kompi II di Lhok Nga untuk mengambil bahan makanan dan bensin.
Pada sorenya satu satu truk membawa perbekalan dan bensin menuju Lhoong.

Ibarat membungkus bangkai, pasti tercium bau. Pemimpin Redaksi Peristiwa Achmad Chatib Aly (sering disingkat menjadi Acha) melakukan investigasi yang luar biasa.

Koran yang terbit di Jalan Merduati Nomor 98 Kutaradja itu menjadi tumpuan warga untuk mengetahui hal-hal yang coba disamar-samarkan itu.

Kala itu, militer Indonesia memblokir jalan ke Tempat Kejadian Perkara (TKP). Acha tidak kehilangan akal dengan menyewa boat nelayan.

Tugas jurnalistik ditunaikan Acha dengan baik. Seminggu kemudian, Peristiwa edisi 3 Maret 1955 memuat laporan bernas di halaman satu dengan judul “Bandjir Darah di Tanah Rentjong”.

Peristiwa edisi 10 Maret 1955 mencantumkan daftar warga yang ditembak oleh Batalyon 142, Peleton 32 dengan memakai senjata Bren, 2 mobil, 2 jeep, 2 truk.

Berdasarkan pemberitaan Peristiwa yang dirintis pada awal tahun 1954, Hasan Tiro yang tinggal di New York Amerika Serikat mengetahui sepak terjang Indonesia.

Diplomat cerdas ini menilai eksekusi massa itu adalah genosida. Hasan Tiro yang dicabut paspor diplomatik Indonesia pada tahun 1954 semakin yakin, Aceh yang diibaratkan sebagai bagian dari puluhan kamar yang berteduh dalam rumah bernama Indonesia sudah waktunya dipertanyakan.

Beberapa surat kabar terbitan Medan Sumatera Utara seperti Lembaga, Tangkas, dan Warta Berita menulis kasus yang dilapor oleh Hasan Tiro tertera dalam agenda PBB.

“Bila kemudian tak dibicarakan di PBB itu lain soal. Kejadian di Aceh itu sudah jadi perhatian internasional,” tulis Zakaria M Passe di Majalah Tempo edisi 24 Oktober 1987.

Menurut Murizal, kekerasan oleh negara pada tahun 1955 terulang lagi di Aceh pada era reformasi seperti pembantaian di Beutong Ateueh, Simpang KKA, Bumi Flora dan lain-lain.

 

Sosok Acha

Dalam sebuah tulisan tentang “Kutaraja Sampai Tahun 1960” jurnalis Harian Bijaksana yang terbit di Kutaraja pada masa itu M Joenoes Joesoef menulis Harian Peristiwa yang pertama kali menyiarkan daftar nama-nama korban tragedi Cot Pulot Jeumpa. Maka koran itu pun meledak.

Dimana-mana orang mencarinya. Maka orang-orang percetakan pun ambil kesempatan. Koran yang baru setengah jadi, artinya koran yang baru dicetak halaman satu dan empatnya, langsung dilego. Daftar korban memang ada di halaman satu dan empat.

Sosok Acha berbadan kecil, pakai kacamata. Yang jadi ciri khasnya, selalu ada sepotong kertas di tangan kirinya, yang menutupi sebagian tangan nya. Mengapa? Rupanya ada bagian berwarna putih di tangan itu, semacam supak, bekas luka akibat terbakar, yang tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain.

Harian “Bijaksana” satu dari dua harian yang ada di Kutaraja waktu itu. Yang lainnya adalah “Peristiwa”, dengan pemimpin redaksi Acha, alias Ahmad Chatib Ali.

Pemimpin umum dan pemimpin redaksi harian “Bijaksana” adalah Hadjisjamaun.

Harian “Bijaksana” seperti juga “Peristiwa”, dicetak di Percetakan Negara, satu-satunya percetakan yang tergolong bonafit di Kutaraja.

Seiring perjalanan waktu nama Acha atau Achmad Chatib Ali, yang telah membuat dunia heboh karena laporan investigasinya dalam tragedi Cot Pulot Jeumpa semakin tak terdengar.

Sang jurnalis kawakan itu seperti hilang dari dunia kewartawanan, dan kisah hidupnya pun minim terekspose media hingga akhir hayatnya.

Namun nama Acha akan selalu abadi tercatat dalam sejarah pers Aceh sebagai sosok wartawan sejati atas jasanya mengungkap sebuah fakta dan kebenaran. (Ansari Hasyim)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed