by

4 Tahun Berjuang Melawan Kezoliman, Akhirnya Terlapor Bisa Jadi Tersangka

-Artikel-174 views

Sebuah Wawancara Ekslusif Wartaindonews dengan Adv.Asri Purwanti, S.H., M.H., CIL.

Awal mula: Pernah hidup seorang yang bernama Sln meninggalkan 2(dua) istri yang bernama Sgy (istri pertama) dan Sdy (istri kedua). Sebelum menikah Sln telah menerima harta warisan dari almarhum kedua orang tuanya.

Dengan istri pertamanya Sgy, Sln mempunyai 5 orang anak, sedangkan dengan istri keduanya Sdy, Sln mempunyai 7 orang anak. Anak-anak dari istri pertama Sgy dan dari isteri kedua Sdy sejak kecil hidup rukun.

Namun setelah Sln meninggal dunia pada 19 April 2009, Sgy dan 5 orang anaknya pernah meminta Surat Keterangan Waris (SKW) ke Kelurahan dan Kecamatan pada 10 Januari 2011, dengan niat jahat mereka meninggalkan atau tanpa mencantumkan 7 orang anak dari Sdy sebagai ahli waris yang sah juga.

Namun niat jahat dari Sgy dan anak-anaknya tercium oleh anak-anak Sdy dan mereka datang menjelaskan ke Lurah setempat dan mengajukan keberatan pada tanggal 19 Januari 2011.

Oleh Lurah tersebut SKW tersebut dinyatakan batal dengan menggunakan Surat Pembatalan SKW, tetapi SKW yang telah terlanjur diberikan kepada Sgy dan anak-anaknya tidak diambil oleh pihak kelurahan, masih tetap dibawa Sgy dan anak-anaknya.

Dengan sabar Sgy dan 5 orang anak-anaknya menunggu kelengahan Sdy dan anak-anaknya. Akhirnya pada 30 Januari 2015 Sgy beserta anak-anaknya mendatangi Notaris PPAT untuk melakukan Pembagian Hak Bersama dengan membawa SKW yang tidak sah (palsu) tersebut untuk kemudian dilakukan turun waris.

Proses turun waris terlaksana pada 17 Februari 2015, kemudian dibalik nama menjadi atas nama Sgy berdasarkan Pembagian Hak Bersama tersebut.

Obyek warisan berupa tanah sawah dijual oleh Sgy kepada Slmi pada 15 Desember 2015. Sedangkan obyek rumah telah dipecah-pecah kepada Sgy dan anak-anaknya dan sebagian telah dijual kepada ACil.

Dari kejadian tersebut diatas, maka Sdy beserta 7 orang anaknya baru mengetahui sekitar Maret 2016, yang akhirnya mereka membuat pengaduan ke Kepolisian setempat pada tanggal 5 April 2016.

Unsur Pidana Yang Terkandung Dalam Perbuatan Sgy dan Anak-Anaknya.

Adanya niat jahat dari Sgy dan anak-anaknya untuk memiliki dan menguasai obyek-obyek warisan peninggalan almarhum Sln, berusaha tanpa diketahui oleh isteri kedua Sdy beserta anak-anaknya, dengan cara diam-diam Sgy dan anak-anaknya membuat SKW tanpa melibatkan dan mencantumkan Sdy dan anak-anaknya sebagai ahli waris, untuk minta ke Lurah dan Camat setempat menanda-tangani SKW tersebut. Karena ketahuan Sdy dan anak-anaknya maka SKW tersebut dibatalkan oleh Lurah dan Camat, akan tetapi SKW yang telah diberikan kepada Sgy dan anak-anaknya tidak dilakukan penarikan oleh pihak kelurahan.

Perbuatan membuat SKW yang tidak benar, yang menyatakan bahwa hanya Sgy dan anak-anaknya yang menjadi ahli waris, keterangan tersebut adalah palsu, yang selanjutnya disebut SKW Palsu, hal itu melanggar Pasal 263 ayat (1) KUHP yang ancaman hukumannya, yaitu hukuman penjara selama-lamanya 6 (enam) tahun.

Disamping itu, Sgy dengan sengaja menggunakan SKW Palsu tersebut yang seolah-olah SKW tersebut asli dan tidak dipalsukan dan mendatangkan kerugian ahli waris lainnya yaitu Sdy dan anak-anaknya, perbuatan tersebut melanggar Pasal 263 ayat (2) KUHP. yang ancaman hukumannya, yaitu hukuman penjara selama-lamanya 6(enam) tahun.

Selang waktu +/- 4 (empat) tahun kemudian SKW yang dibawa Sgy beserta anak-anaknya yang seharusnya dikembalikan ke Lurah, malah digunakan ke Notaris PPAT untuk dilakukan turun waris. Penggunaan SKW palsu yang digunakan untuk membuat akta otentik yaitu membuat turun waris ke Sgy beserta anak-anaknya, perbuatan tersebut melanggar Pasal 266 ayat (1) dan ayat (2) KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya 7 (tujuh) tahun.

Setelah sertifikat dibalik nama (turun waris) kepada Sgy beserta 5 (lima) orang anaknya tersebut selesai, selanjutnya untuk Sertifikat Tanah Sawah dilakukan Pembagian Hak Bersama dialihkan menjadi atas nama Sgy, sedangkan untuk Sertifikat Rumah dilakukan pemecahan untuk diterbitkan sertifikat ke Sgy beserta 5 (lima) orang anaknya, Perbuatan Sgy beserta 5 (lima) orang anaknya tersebut melanggar Pasal 372 KUHP yang ancaman hukuman penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun.

Selanjutnya Sgy menjual tanah sawahnya kepada Slrm pada tanggal 15 Desember 2015 berdasarkan akta jual beli nomor 350/2015 tanggal 15 Desember 2015, serta satu sertifikat yang terbit dari hasil pemecahan rumah telah dijual juga kepada pihak lain yang bernama ACil, perbuatan tersebut dilakukan tanpa memberitahukan kepada 7 (tujuh) orang ahli waris lainnya yang berhak pula atas obyek warisan tersebut, hal ini jelas merupakan perbuatan yang melanggar hukum sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 385 ke-1 KUHP, dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun.

Barang bukti yang telah disampaikan oleh para pelapor sebagai ahli waris atas obyek tanah warisan dari alm.Sln adalah sebagai berikut :
Surat Nikah ibu Sdy dengan Sln.

Akte kelahiran 7 (tujuh) orang anak-anak Sdy dan Sln. Foto copy sertipikat tanah warisan yang telah diturun waris oleh para terlapor, telah dipecah-pecah dan telah dijual.

KTP para pelapor sebagai identitas. Surat Keterangan Waris dari Kelurahan/ Kecamatan yang dipakai oleh para Terlapor.

Surat Keterangan Waris dari Kelurahan/ Kecamatan atas nama semua ahli waris dari alm.Sln.

Surat aduan dari para Pelapor yaitu Sdy beserta 7(tujuh) anaknya yang telah dilakukan sejak 5 April 2016 sudah nampak membuahkan hasil, sejak penyidiknya digantikan oleh penyidik yang baru, yang kebetulan Kanit dan Kasatreskrim nya juga baru, yang mana tim yang baru tersebut hanya dalam waktu 4-5 bulan telah membuahkan hasil yang tadinya dari tahap Lidik sudah meningkat ke Sidik artinya para Terlapor statusnya sudah menjadi Tersangka dan sudah diterbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Perkara (SPDP) yang kasusnya akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri.

Dari kasus perkara dugaan tindak pidana yang diadukan sejak 5 April 2016 dalam kurun waktu + 3,5 tahun oleh seorang penyidik di Polres masih terus dalam status Lidik, namun dengan digantikannya oleh penyidik yang lain, hanya dalam waktu 4-5 bulan penanganan kasus bisa menunjukkan hasil progres yang signifikan. Nampaknya rotasi penyidik bisa meningkatkan kinerja jajaran Reskrim khususnya dan kinerja Polres pada umumnya.

Salut buat kinerja penyidik yang telah menggantikan penyidik sebelumnya yang menangani kasus ini, yang semua itu tidak lepas dari profesionalisme atasannya, Kanitreskrim dan Kasatreskrim serta tentunya Kapolres yang memimpinnya.

Demikian wawancara eklusif dengan Adv.Asri Purwanti, S.H., M.H., CIL sebagai kuasa hukum Para Pelapor yang kegigihan dan komitmennya yang tinggi dalam mewakili kliennya, berjuang tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal bosan yang akhirnya membuahkan secercah harapan bagi para pelapor pencari keadilan dan kebenaran tersebut. Bahkan dalam proses penangan kasus yang sedang berjalan ini, salah satu pelapornya +/- 2 bulan yang lalu meninggal dunia belum sempat menikmati haknya, imbuh Asri.

Bagi umum yang ingin mengikuti kasus menarik ini, silahkan menunggu kasusnya dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Sukoharjo untuk disidangkan nanti.

 

Penulis: Danny T. Susetyo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed