by

20 Kampung Tematik Siap Jadi Malang Tourism Hub Dalam Pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

Wartaindonews, Malang – Kota Malang yang notabene adalah kota yang memiliki sumber daya alam terbatas. Tidak ada laut yang melewati, tidak ada gunung, kawah, air terjun atau danau yang menghiasi. Namun kota yang menjadi Gementee pada tahun 1914 memiliki sumber daya manusia mumpuni dan berada di wilayah strategis yang dapat menopang pawisata.

Banyak potensi yang terkandung didalamnya yaitu Malang sebagai kota penghubung atau pengumpan, sebagai urban tourism dan city heritage yang menjadi potensi wisata andalan dan melahirkan kampung-kampung tematik yang siap menjadi penyangga pariwisata di Bumi Arema.

Kampung tematik yang tergabung dalam Forum Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) adalah wujud pengembangan wisata berbasis masyarakat yang mampu mengelola potensi dalam wilayahnya, dapat mengeluarkan ide kreatif dan brilian untuk menciptakan destinasi wisata buatan yang dapat mendorong perekonomia masyarakat sekitar.

Tentu saja kampung – kampung ini harus memiliki branding untuk dikenal masyarakat.

“Branding berasal dari kata brand yang berarti merk. Hal yang harus ada dalam sebuah brand adalah adanya identitas. Melalui identitas ini kita akan lebih mudah mengenalkan siapa diri kita, kemudian kita juga harus memiliki budaya organisasi yang sistematis. Selain itu, kita juga harus memiliki strategi bagaimana memasarkan produk kita agar lebih dikenal masyarakat ” ungkap Direktur pengembangan dan kepariwisataan, Maulina Via Wulandari saat memberi sambutan dalam acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Penanaman Modal dan Kepariwisataan di Ruang Sidang Balai Kota Malang, Rabu (27/11/2019).

Lebih lanjut, wanita cantik yang biasa disapa Pia ini sangat mengapresiasi tumbuh kembang kampung – kampung tematik yang menjamur untuk menunjukkan eksistensi diri. Tentu saja kampung – kampung ini harus memiliki keunggulan. Hal yang lebih penting adalah positif testimoni. Di era digital ini, testimoni menjadi nilai tersendiri dalam penentuan rating sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang ke tempat kita” tambahnya.

Potensi Kota Malang dalam sektor pariwisata sangat pesat pertumbuhannya. Keberadaan kampung-kampung tematik menyumbangkan destinasi wisata yang dapat menjadi Tourism Hub. Sebut saja Kampung Budaya Polowijen dengan tari topengnya mengantarkan kampungnya Ken Dedes ini dikenal sampai Mancanegara. Kampung warna-warni, Kampung Tridi, Kampung Biru Arema merupakan kampung padat penduduk yang disulap menjadi satu jujugan wisata yang apik dan menghibur. Kampung Heritage Kayu Tangan yang sedang naik daun dapat mengenalkan Kota Malang sebagai kawasan heritage,

Kampung Makam Gribig dengan sebutan Makam Seribu Bupati memberikan nilai religi, Kampung Terapi Hijau, GWS dengan konsep ramah lingkungan mampu menyabet berbagai penghargaan, Kampung Kripik Sanan sebuah kampung yang sudah dikenal sejak jaman beheula sebagai penghasil tempe, Kampung Koeboeran Londo sebuah pemakaman yang menyajikan nilai-nilai histori dan edukasi. Dan banyak lagi kampung – kampung tematik lainnya di Kota Malang yang memiliki keunggulan untuk ditawarkan. Potensi dari kampung ini dapat menjadi penyangga Kota Malang sebagai Hub dalam ekosistem pariwisata.

” Tourism Hub atau pusat pariwisata adalah tempat dimana semua elemen terkait kebutuhan wisata hadir, seperti tempat-tempat wisata dari berbagai situs warisan budaya dan melalui kampung-kampung tematik kita dapat berkolaborasi untuk menciptakan iklim pariwisata yang sehat” ucap Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, Agung H Buana saat memberikan materi.

Agung juga menambahkan dalam pengenalan pariwisata juga harus memenuhi beberapa unsur yaitu keamanan, kestabilan, kemudahan, keuntungan dan ketersediaan. Jika unsur – unsur ini dapat dicapai pariwisata akan menjadi maju.

Dibutuhkan langkah strategi agar Kota Malang melalui kampung-kampung tematik dapat menjadi Hub Tourism yang baik. Tentunya dibutuhkan fasilitas dan penunjang mengingat kampung – kampung tematik di Kota Malang tumbuh dan berkembang atas kesadaran masyarakat tanpa dibarengi investasi yang besar. Tidak mengherankan jika sarana dan prasarana masih kurang memadai, sehingga diperlukan tangan Pemerintah Daerah untuk dapat memoles menjadi lebih cantik dan memiliki nilai jual.

” Kampung – kampung tematik di Kota Malang yang tergabung dalam Pokdarwis ada 20 (dua puluhan) an, memiliki permasalahan sendiri-sendiri utamanya faktor sarana dan prasarana yang kurang memadai. Kami mewakili Pokdarwis berharap agar kiranya perhatikan ulang tidak menutup kemungkinan akan menjadi penguat dalam pengenalan wisata Bromo, Semeru Tengger” ujar Ki Demang sapaan Ketua Forkom Pokdarwis se Kota Malang dalam memberikan tanggapannya.

Pria yang bernama asli Isa Wahyudi ini dan sekaligus sebagai ketua Kampung Budaya Polowijen berharap agar adanya kolaborasi yang saling menguntungkan bak simbiosis mutualisme dalam hal pemasaran, sehingga persaingan tidak sehat dapat dihindari.

Semoga melalui Rapat Koordinasi Teknis (RAKORTEK) yang diselenggarakan Badan Perencanaan Penelitian Pembangunan (Barenlitbang) Kota Malang aspirasi kampung tematik tersalurkan sehingga akan menjadi penyangga yang kokoh dalam menciptakan strategi Kota Malang sebagai Hub dalam ekosistem pariwisata kawasan regional dan nasional. (Hariani)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed